Sabtu, 21 Juli 2018

Indra Peraba


LAPORAN PRAKTIKUM PSIKOLOGI FAAL
Nama Mahasiswa
NPM
Kelas
:
:
:
Nadila Nita T.G
14517380
1PA20
Tanggal Pemeriksaan
Nama Asisten
Paraf Asisten
:
:
:
19 Mei 2018
Dwi Maidaleni


1.
Percobaan
:
Indera Peraba

Nama Percobaan
:
Perasa pada kulit

Nama Subjek Percobaan
:
Nadila Nita Telyana Gulo

Tempat Percobaan
:
Laboratorium Psikologi Faal

a.      Tujuan Percobaan
:
Untuk mengetahui adanya reseptor tekanan, sakit, sentuhan, dingin dan panas pada kulit, serta mengetahui letak pada amasing-masing reseptor.

b.      Dasar Teori
:
Menurut Basuki (2008) kulit yang paling luar merupakan film tipis dari sel mati yang tidak memiliki sel penerima. Persis di bawah lapisan mati terdapat penerima pertama yang kelihatan seperti kumpulan benang. Di bagian tengah yang merupakan lapisan tebal dari kulit terdapat berbagai penerima (receptor) dengan fungsi dan bentuk yang berbeda.
Menurut Pinel (2012) sensasi-sensasi dari badan disebut somatosensations (somatosensori). Sistem somatosensori pada kenyataannya adalah tiga sistem yang terpisah tetapi saling berinterkasi yakni sebuah sistem ekstereseptif (yang mengindera stimuli eksternal yang diterapkan pada kulit), sebuah sistem proprioseptif (yang memonitor informasi tentang posisi tubuh yang datang dari reseptor-reseptor di otot, sendi, dan organg-organ keseimbangan), dan sebuah sistem interoseptif (yang memberikan informasi umum tentang kondisi-kondisi dalam tubuh). Diskusi ini secara nyaris secara eksklusif berbicara tentang system eksteroseptif yang terdiri atas tiga devisi yang berbeda yaitu sebuah divisi untuk mempersepsi stimuli mekanik (perabaan), sebuah divisi untuk stimuli thermal (temperatur), dan sebuah devisi untuk stimuli nosiseptif (rasa sakit).
Menurut Puspitawati dkk (2014) reseptor-reseptor di kulit (reseptor kutanase) terdiri dari banyak macamnya. Ada empat macam reseptor utama, sebagai berikut:
A.    Freee nerve endings (ujung-ujung saraf bebas), merupakan reseptor kutaneus paling sederhana, ujung-ujung sarafnya tanpa struktur yang khusus dan sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan rasa sakit.
B.  Pacinian corpuscles (korpuskel pacinian), bentuknya seperti bawang, merupakan reseptor terbesar dan terdalam, mudah beradaptasi dengan cepat, mereka dapat merespons perubahan mendadak pada kulit.
C.     Merkel’s disks, merespons paling kuat indensasi gradual kulit dan peregangan gradual kulit. Beradaptasi dengan lambat.
D.  Ruffini endings, respons dan adaptasinya sama dengan reseptor Merkel’s disk.
Dapat di simpulkan dari ketiga tokoh tersebut kulit yang paling luar merupakan film tipis dari sel mati yang tidak memiliki sel penerima. System eksteroseptif terdiri atas tiga devisi yang berbeda yaitu sebuah divisi untuk mempersepsi stimuli mekanik (perabaan), sebuah divisi untuk stimuli thermal (temperatur), dan sebuah devisi untuk stimuli nosiseptif (rasa sakit), dam reseptor-reseptor di kulit (reseptor kutanase) terdiri dari banyak macamnya yaitu Freee nerve endings (ujung-ujung saraf bebas), Pacinian corpuscles (korpuskel pacinian), Merkel’s disks yang merespons paling kuat dan Ruffini endings.

c.       Alat yang digunakan
:
3 baskom plastik; serta beberapa macam cairan atau larutan (air, alkohol 70% dan aseton).

d.      Jalannya Percobaan
:
1.1      praktikan merendamkan tangan kiri pada baskom air dingin dan tangan kanan pada baskom air hangat. Kemudian kedua tangan praktikan di rendamkan kembali pada baskom air biasa.
1.2      Praktikan ditetesi air biasa dari punggung tangan, lalu ditiup. Kemudian tangan praktikan ditetesi alkohol, lalu ditiup  dan yang terakhir tangan ditetesi dengan aseton lalu ditiup. Sehingga praktikan bisa membedakan mana yang lebih berasa dinginnya.

e.       Hasil Percobaan
:
Menurut tokoh yang di atas dikatakan bahwa kita memiliki sebuah reseptor divisi untuk merasakan stimuli thermal atau temperature. Ketika tangan kita di masukan ke baskom yang berisi air panas, dingin bahkan hangat kulit kita dapat mendeteksi dengan cepat.
1.1    Tangan kiri yang direndam pada air dingin kemudian direndam kembali pada air biasa mengalami penurunan suhu menjadi hangat. Tangan kanan yang direndam pada air hangat kemudian direndam kembali pada air dingin mengalami kenaikan suhu sehingga menjadi dingin.

Menurut tokoh yang di atas dikatakan bahwa kita memiliki berbagai macam reseptor namun ada reseptor yang paling utama yaitu Freee nerve endings atau ujung-ujung saraf bebas, merupakan reseptor kutaneus paling sederhana, ujung-ujung sarafnya tanpa struktur yang khusus dan sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan rasa sakit dari sini kita bisa merasakan perubahan suhu yang signifikan dengan melakukan percobaan perasa pada kulit
1.2    Tangan yang di tetesi air biasa tidak terlalu dingin. Tangan yang di tetesi dengan alkohol lebih dingin daripada yang di tetesi air biasa. Tangan yang di tetesi oleh aseton lebih dingin daripada yang di tetesi alkohol.

f.        Hasil Sebenarnya
:
1.1
1.      Biasanya setelah dimasukkan ke baskom c tangan kanan terasa dingin dan tangan kiri hangat.
2.   Kulit sebagai Thermoreseptor  mendeteksi panas dan dingin.
3.    Tangan kanan terasa dingin karena adanya pengurangan kalor  dari panas ke hangat.
4.      Tangan kiri terasa hangat karena adanya penambahan kalor  dari dingin ke hangat.
1.2
1.      Air lebih dingin dari hanya ditiup.
2.      Alkohol lebih dingin dari air. Aseton lebih dingin dari alkohol.
3.      Aseton lebih dngin daripada alkohol
4.      Ada reseptor dingin pada kulit (reseptor Krasue)
5.      Alkohol memiliki titik didih yang rendah sehingga ketika mengenai kulit alkohol akan langsung menguap. Selama proses penguapan alkohol memerlukan kalor yang diambil dari tubuh, maka kulit akan terasa dingin.

g.     Kesimpulan
:
Kulit merupakan reseptor yang peka terhadap rangsangan khusus seperti merespons sentuhan, tekanan, rasa sakit, panas, dan dingin. Kulit terdiri dari epidermis, dermis dan subkutis. Epidermis merupakan lapisan yang sangat rapat dan sifatnya tipis dan avaskuler. Dermis merupakan lapisan di bawah epidermis yang terdiri dari sel longgar yang letaknya agak berjauhan  dan dibagi menjadi dua lapisan yaitu lapisan papiler dan lapisan retikuler. Subkutis merupakan lapisan di bawah dermis atau hipodermis yang terdiri dari lapisan lemak.

h.      Daftar Pustaka
:
Basuki, M. H. (2008). Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Pinel, J. P. (2012). Biopsikologi. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Puspitawati , I., Hapsari, I. I., & Suryaratri, R. D. (2014). Psikologi Faal. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.







2.
Percobaan
:
Indra Peraba

Nama Percobaan
:
Lokalisasi Taktil

Nama Subjek Percobaan
:
Nadila Nita Telyana Gulo

Tempat Percobaan
:
Laboratorium Psikologi Faal

a.      Tujuan Percobaan
:
Memahami serta mengetahui kepekaan syaraf peraba dengan melokalisir tempat yang ditusukkan keberbagai tempat; serta mengetahui kepekaan TPL (Two Point Localization).

b.      Dasar Teori
:
Menurut Kimbal (1983) pada manusia sentuhan halus dideteksi oleh resptor yang terdapat dekat permukaan kulit. Acap kali terdapat folikel rambut. Bahkan jika kulit disentuh secara tidak langsung, gerakan rambut di deteksi oleh reseptor. Reseptor sentuhan tidak disebarkan secara merata di seluruh permukaan tubuh. Kulit ujung jari dapat mengandung sebanyak 100 per sentimeter persegi dan di ujung lidah demikian pula sebanyaknya. Konsentrasi reseptor sentuhan di lokasi lain cenderung jauh lebih kecil jumlahnya. Lokasi yang tepat bagi reseptor-reseptor sentuhan dapat ditentukan dengan menyentuh kulit secara lembut dengan sikat kaku dan menandai titik-titik tempat subjek mendeteksi sentuhan tertentu. Variasi yang menarik pada teknik ini dapat dilakukan dengan sepasang pemisah seperti yang dipakai pada gambar teknik mesin. Tekanan, salah satu reseptor yang paling mudah dikaji ialah korpuskel pacini karena dapat diambil dan ukurannya relatif besar. Reseptor ini terletak pada kulit dan juga di berbagai organ dalam. Sebagaimana reseptor lainnya, masing-masing dihubungkan dengan neuron sensori. Dengan mengisolasi satu korpuskel pacini bersama neuronnya yang menempel merupakan suatu cara untuk menelaah sifat-sifatnya.
Menurut Puspitawati dkk (2014) seseorang dapat mengidentifikasi objek melalui sentuhan (stereognosis). Dengan memiliki reseptor yang sebagian beradaptasi dengan cepat dan sebagian beradaptasi dengan lambat akan memmberikan informasi tentang kualitas-kualitas dinamis maupun statis dari berbagai stimuli taktual.
Menurut Sherwood (2001) hampir semua informasi mengenai sentuhan, tekanan, dan getaran masuk ke korda spinalis melalui akar dorsal saraf spinal yang sesuai. Setelah bersinap di spina, informasi dengan lokalisasi dibawa oleh serat-serat A yang melepaskan potensial aks dengan cepat (beta dan delta) dikirim ke otak melalui sistem lemniskus kolumna dorsalist.
Dapat di simpulkan dari ketiga tokoh tersebut bahwa pada manusia sentuhan halus dideteksi oleh resptor yang terdapat dekat permukaan kulit sering kali terdapat folikel rambut. Konsentrasi reseptor sentuhan di lokasi lain cenderung jauh lebih kecil jumlahnya seseorang dapat mengidentifikasi objek melalui sentuhan (stereognosis) teseptor yang beradaptasi denan cepat dan lambat akan memberikan informasi yang dinamis maupun statis. Hampir semua informasi mengenai sentuhan, tekanan, dan getaran masuk ke korda spinalis melalui akar dorsal saraf spinal yang sesuai.

c.       Alat yang digunakan
:
Spidol 2 warna dan penggaris dan penutup mata.

d.      Jalannya Percobaan
:
Praktikan ditutup matanya dengan penutup mata, kemudian tutor menulis titik pada tangan praktikan, lalu dengan cepat praktikan menuliskan titik sesuai yang tadi tutor berikan. Kemudian tutor menghitung jarak antara titik yang diberikan tutor dengan titik yang di tulis oleh praktikan.

e.       Hasil Percobaan
:
Menurut tokoh yang di atas dikatakan bahwa seseorang mampu mengidentifikasi objek melalui sentuhan (stereognosis). Reseptor sebagian beradaptasi dengan cepat dan sebagian beradaptasi dengan lambat akan memberikan informasi secara dinamis maupun statis dari berbagai stimuli taktual. Konsentrasi reseptor di lokasi yang tepat bagi reseptor-reseptor sentuhan dapat ditentukan dengan menyentuh kulit secara lembut dengan sikat kaku dan menandai titik-titik tempat subjek mendeteksi sentuhan tertentu. Dari percobaan ini kita bisa mengetahui kepekaan syaraf serta mengetahui kepekaan.
Hasil lokalisasi taktil
1.    1,3 cm
2.    1,5 cm
3.    1,4 cm

f.        Hasil Sebenarnya
:
1.   Bila jarak kurang dari 5cm  syaraf peraba baik
2.  Bila jarak lebih dari 5cm  syaraf peraba kurang baik
3.  TPL (To Poin Localization)  lebih peka pada bagian yang menonjol (hidung, bibir, mata, ujung jari dll)
4.    Jarak yang tutor tusuk dengan yang praktikan dapat tergantung waktu

g.     Kesimpulan
:
Kulit merupakan indera peraba yang mempunyai reseptor khusus untuk sentuhan, tekanan, panas, dingin dan rasa sakit. Reseptor pada kulit bagian lapisan epidermis mendeteksi sentuhan dan lapisan dermis mendeteksi panas, dingin, tekanan dan rasa sakit. TPL (Two Point Localization) lebih peka pada bagian yang menonjol seperti hidung, mata, bibir, ujung jari dan telinga. Lokasi yang tepat bagi reseptor-reseptor  sentuhan, dapat ditentukan dengan menyentuh kulit secara lembut dengan sikat kaku dan menandai titik-titik tempat subjek mendeteksi sentuhan tertentu.

h.      Daftar Pustaka
:
Kimbal, J. W. (1983). Biologi. Jakarta: Erlangga.
Puspitawati , I., Hapsari, I. I., & Suryaratri, R. D. (2014). Psikologi Faal. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Sherwood, L. (2001). Fisiologi Manusia. Ahli Bahasa oleh Batricia I. Jakarta: EGC.













3.
Percobaan
:
Indera Peraba

Nama Percobaan
:
Daya membedakan sifat benda

Nama Subjek Percobaan
:
Nadila Nita Telyana Gulo

Tempat Percobaan
:
Laboratorium Psikologi Faal

a.      Tujuan Percobaan
:
Untuk membuktikan kepekaan syaraf peraba terhadap kehalusan benda sampai kekasaran benda; serta bentuk-bentuk benda (Streognostik).

b.      Dasar Teori
:
Menurut Kimbal (1983) Sentuhan dapat ditentukan dengan menyentuh kulit secara lembut dengan sikat kaku dan menandai titik-titik tempat subjek mendeteksi sentuhan tertentu. Variasi yang menarik pada teknik ini dapat dilakukan dengan sepasang pemisah seperti yang dipakai pada gambar teknik mesin. Tekanan, salah satu reseptor yang paling mudah dikaji ialah korpuskel pacini karena dapat diambil dan ukurannya relatif besar. Reseptor ini terletak pada kulit dan juga di berbagai organ dalam. Sebagaimana reseptor lainnya, masing-masing dihubungkan dengan neuron sensori. Dengan mengisolasi satu korpuskel pacini bersama neuronnya yang menempel merupakan suatu cara untuk menelaah sifat-sifatnya.
Menurut Pinel (2012) ada banyak macam reseptor di kulit mengilustrasikan empat di antaranya. Cutaneous receptor (reseptor kutaneus) paling sederhana adalah free nerve endings (ujung-ujung saraf bebas, ujung-ujung neuron tanpa struktur terspesialisasi), yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan rasa sakit. Reseptor terbesar dan terdalam adalah pacinian corpuscles (korpuskel pacinian) mirip bawang, karena mereka beradaptasi dengan cepat, mereka serta merta merespons displacement mendadak pada kulit. Sebaliknya, merkel’s disks dan ruffini endings keduanya beradaptasi dengan lamban dan masing-masing merespons kuat pada indensasi gradual kulit dan peregangan gradual kulit. Signifikasi fungsional adaptasi reseptif cepat dan lambat, bila sebuah tekanan konstan diterapkan pada kulit. Tekanan itu membangkitkan semburan penembakan di seluruh reseptor, yang berkorespondensi dengan sensai sentuh, tetapi setelah beberapa ratus milisekon, hanya reseptor-reseptor yang lambat beradaptasi yang tetap aktif, dan kualitas sensasinya pun berubah. Faktanya, sering sama sekali tidak menyadari tekanan kulit konstan.
Menurut Puspitawati dkk (2014) berdasarkan reseptor-reseptor di kulit, maka seseorang dapat mengidentifikasi objek melalui sentuhan (stereognosis). Dengan memiliki reseptor yang sebagian beradaptasi dengan cepat dan sebagian beradaptasi dengan lambat akan memberikan informasi tentang kualitas-kualitas dinamis maupun statis dari berbagai stimuli taktual.
Dapat di simpulkan dari ketiga tokoh tersebut bahwa sentuhan dapat ditentukan dengan menyentuh kulit secara lembut dengan sikat kaku dan menandai titik-titik tempat subjek mendeteksi sentuhan tertentu dan dapat diketahui bahwa reseptor terbesar dan terdalam adalah pacinian corpuscles (korpuskel pacinian), melalui reseptor-reseptor di kulit maka seseorang dapat mengidentifikasi objek melalui yang di sentuhnya.

c.       Alat yang digunakan
:
Slayer penutup mata, kain (berbagai macam dari yang halus sampai yang kasar), serta berbagai macam bentuk balok (kubus, silinder, lingkaran, segitiga dan kerucut).                

d.      Jalannya Percobaan
:
3.1     Praktikan ditutup matanya kemudian tutor memberikan kain lalu praktikan mengurutkan kain yang disentuh dari yang halus sampai yang kasar.
3.2    Praktikan ditutup matanya kemudian menebak benda apa yang diberikan oleh tutor.

e.       Hasil Percobaan
:
Menurut tokoh yang di atas dikatakan bahwa berdasarkan reseptor-reseptor di kulit, maka seseorang dapat mengidentifikasi objek melalui sentuhan (stereognosis). Kita memiliki reseptor yang sebagian beradaptasi dengan cepat dan sebagian beradaptasi dengan lambat akan memberikan informasi tentang kualitas-kualitas dinamis maupun statis dari berbagai stimuli taktual. Dari sini kita bisa mengetahui kepekaan syaraf peraba terhadap kehalusan benda sampai kekasaran benda dan bentuk-bentuk benda.
3.1 Hasil : 5,1,4,2,3
3.2 Hasil : K, R, lingkaran, W, Y

f.        Hasil Sebenarnya
:
3.1 Adalah 4,1,5,2,3
3.2 K, J, lingkaran, W, H

g.     kesimpulan
:
Setiap orang memiliki kepekaan syaraf peraba terhadap kehalusan benda sampai kekasaran benda dan bentuk-bentuk benda. Indera peraba atau kulit yang peka terhadap sensor sentuhan, tekanan, suhu dan rasa sakit. Sensor tersebut banyak dilapisan kulit dermis. Sensor-sensor tersebut akan dikirim ke otak untuk diterjemahkan sebagai respons panas, dingin, rasa sakit, dan lain-lain. Terdapat dua jalur utama informasi ke otak, yaitu jalur sistem kolom dorsal lemnikus meidal dan jalur sistem anterolateral.

h.      daftar Pustaka
:
Basuki, M. H. (2008). Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Pinel, J. P. (2012). Biopsikologi. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Puspitawati, I., Hapsari, I. I., & Suryaratri, R. D. (2014). Psikologi Faal. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.



















4.
Percobaan
:
Indera Peraba

Nama Percobaan
:
Gerak Refleks

Nama Subjek Percobaan
:
Nadila Nita Telyana Gulo

Tempat Percobaan
:
Laboratorium Psikologi Faal

a.      Tujuan Percobaan
:
Untuk mengetahui adanya gerakan-gerakan reflek pada otot.

b.      Dasar Teori
:
Menurut Slone (2004) refleks adalah respons otomatis terhadap stimulus tertentu yang menjalar pada rute yang disebut lengkung refleks. Sebagian besar proses tubuh involunter (misalnya, denyut jantung, pernapasan, aktivitas pencernaan, dan pengaturan suhu) dan respons somatis (misalnya, sentakan akibat suatu stimulus nyeri atau sentakan pada lutut) merupakan kerja refleks.
Menurut Sobur (2003) saat tangan kita tersengat api, otomatis kita akan menarik tangan dari sumber sengatan  tersebut dengan sangat cepat. Inilah yang dinamakan gerak refleks, yaitu suatu gerakan yang diperlihatkan seseorang untuk mempertahankan atau melindungi tubuh dari kemungkinan –  kemungkinan cacat, cidera, luka dan lain – lain.
Menurut Ganong (2001) aktivitas di lengkung reflex dimulai di reseptor sensorik, berupa potensial reseptor yang besarnya sebanding dengan kuat rangsang. Potensial reseptor membangkitkan potensial aksi  yang bersifat gagal atau tuntas disaraf aferen. Jumlah potensial aksi sebanding dengan besarnya potensial generator. Di sistem saraf pusat terjadi respons bertahap berupa potensial pascasinaps eksitatorik dan potensial pasca sianaps inhibitorik yang kemudian bangkit di saraf tertaut-taut sinaps.  Respon yang kemudian bangkit di saraf eferen adalah respon yang bersifat gagal atau tuntas. Bila potensial aksi ini mencapai efektor, akan terbangkit lagi respons bertahap. Di efektor yang berupa otot polos, responnya akan bergabung untuk kemudian mencetuskan potensial aksi di otot polos. Tetapi bila efektornya berupa otot rangka, respons bertahap tersebut selalu cukup besar untuk mencetuskan potensial aksi yang mampu menimbulkan kontraksi otot. Perlu ditekankan bahwa hubungan antara neuron aferen dan eferen biasanya terdapat di susunan saraf pusat, dan aktivitas di lengkung reflex merupakan aktivitas yang termodifikasi oleh berbagai rangsangan yang terkumpul (konvergen) di neuron eferen.
Menurut Wilarso dan Zaipudin (2009) gerak refleks ialah rangsang yang diterima oleh reseptor atau alat indera (dari contoh tadi berupa sengatan api) dibawa oleh sel saraf sensorik ke sumsum tulang belakang untuk diproses dan respon tadi diteruskan oleh  sel saraf motori ke otot untuk melakukan reaksi ( berupa gerakan menarik tangan dengan cepat). Bila digambarkan secara sederhana yaitu rangsangan → sel saraf sensorik → sumsum tulang belakang → sel saraf motorik → otot.
Menurut keempat tokoh dapat disimpulkan bahwa refleks adalah respons otomatis terhadap stimulus tertentu yang menjalar pada rute yang disebut lengkung reflex contohnya saat tangan kita tersengat api, otomatis kita akan menarik tangan dari sumber sengatan  tersebut dengan sangat cepat, inilah yang disebut dengan gerak refleks. Aktivitas di lengkung reflex dimulai di reseptor sensorik. Dalam contoh terkena sengatan api tadi, proses gerakan reflek terjadi dibawa oleh sel saraf sensorik ke sumsum tulang belakang untuk diproses dan respon tadi diteruskan oleh  sel saraf motori ke otot untuk melakukan reaksi ( berupa gerakan menarik tangan dengan cepat).

c.       Alat yang digunakan
:
Sebuah martil refleks dengan bagian depan terbuat dari karet.                                  

d.      Jalannya Percobaan
:
Praktikan duduk diatas meja, kemudian tutor memukul lutut praktikan dengan martil refleks.

e.       Hasil Percobaan
:
Menurut tokoh yang di atas dikatakan bahwa gerak refleks ialah rangsang yang diterima oleh reseptor atau alat indera (dari percobaan memukul martil refleks ke dengkul) dibawa oleh sel saraf sensorik ke sumsum tulang belakang untuk diproses dan respon tadi diteruskan oleh  sel saraf motori ke otot untuk melakukan reaksi ( berupa gerakan menarik tangan dengan cepat). Bila digambarkan secara sederhana yaitu rangsangan → sel saraf sensorik → sumsum tulang belakang → sel saraf motorik → otot. Dari dasar teori dan hasil percobaan kita bisa mengetahui adanya gerakan refleks pada otot kita.

Hasil gerak refleks
Kaki praktikan bergerak saat martil reflek di pukul secara perlahan kebagian lutut hal ini menunjukan adanya gerakan refleks pada otot.

f.        Hasil Sebenarnya
:
1.      Lutut yang dipukul dengan martil refleks secara spontan akan bergerak sendiri  adanya gerekan refleks
2.   Namun, tidak harus bergerak  bisa juga terasa seperti tersetrum.

g.     Kesimpulan
:
Gerak refleks merupakan gerakan yang dilakukan tanpa sadar dan merupakan respon segera setelah adanya rangsang. Mekanisme gerak refleks yang tidak sadar yaitu reseptor → syaraf sensori → sumsum tulang belakang →  syaraf motorik → efektor. Gerak refleks berjalan sangat cepat dan tanggapan terjadi secara otomatis terhadap rangsangan, tanpa memerlukan kontrol dari otak. Contoh gerak refleks yaitu berkedip, bersin, dan batuk.

h.      Daftar Pustaka
:
Sloane, E. (Buku Teks Fisiologi Kedokteran). 2004.Jakarta: EGC.
Sobur, A. (2003). Psikologi Umum dalam Lintasan Sejarah. Bandung: Pustaka Setia.
Ganong, W. F. (2001). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
Wilarso, J., & Zaipudin. (2009). Biologi. Klaten: Sinar Abad.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Deindividuasi

Deindividuasi merupakan tahap psikilogis yang ditandai oleh hilangnya self awerness dan berkurangnya ketakutan individu karena berada dal...