LAPORAN PRAKTIKUM PSIKOLOGI FAAL
|
Nama Mahasiswa
NPM
Kelas
|
: Nadila Nita T.G
: 14517380
: 1PA20
|
Tanggal Pemeriksaan
Nama Asisten
Paraf Asisten
|
: 17 April 2018
: Dwi Maidaleni
:
:
|
1.
Percobaan : Indera Penglihatan 1
Nama Percobaan : Refleks (Reaksi Pupil)
Nama Subjek Percobaan :
Mia Rahmadesi
Tempat Percobaan :
Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk mengetahui serta memahami
reaksi-reaksi
yang terjadi pada pupil mata
b. Dasar Teori : Menurut
Wade (2008), jumlah cahaya yang masuk
ke mata diatur
oleh otot -otot di iris, bagian yang memberikan warna mata. Iris mengelilingi celah yang
melingkar, atau pupil mata.
Ketika anda masuk ke dalam ruang yang sangat gelap, pupil menjadi lebar atau membesar untuk
memungkinkan lebih banyak cahaya
masuk. Ketika
anda melihat cahaya matahari yang sangat menyilaukan,
pupil mengecil
atau melakukan kontraksi untuk membatasi
jumlah cahaya yang masuk. Anda bisa
melihat perubahan ini dengan mengamati mata anda pada sebuah cermin ketika anda mengubah-ubah pencahayaan.
Menurut
Pinel (2012),
cahaya memasuki mata melalui
pupil, lubang di
iris. Penyesuaian ukuran pupil sebagai
respons terhadap berbagai perubahan
iluminasi merepresentasikan sebuah kompromi antara sensitivity (sensitifitas/kepekaan,
kemampuan untuk mendeteksi keberadaan
benda-benda yang pendapat
iluminasi yang redup) dan acuity (akuitas, kemampuan untuk
melihat detail-detail objek). Bila tingkat iluminasi tinggi dan sensitivitas menjadi
tidak penting, sistem visual
memanfaatkan situasi dengan
mengonstriksi (mengerutkan/menciutkan) pupil. Ketika pupil
terkonstriksi, gambar yang jatuh
di masing-masing retina lebih tajam dan kedalaman fokusnya pun lebih besar;
artinya rentang
kedalaman yang lebih besar terfokus secara simultan di retina. Akan
tetapi, ketika tingkat
iluminasi terlalu rendah untuk dapat mengaktifkan reseptor-reseptor visual
secara dekat,
pupil akan berdilatasi (melebar) untuk memungkinkan lebih banyak cahaya masuk, sehingga mengorbankan
akuitas dan kedalaman
fokus.
c. Alat yang digunakan : Senter, sedotan dan cermin
d.
Jalannya Percobaan :
1.1 Mata diberi cahaya menggunakan
senter.
Kemudian
kita mengamati mata subjek, apakah pupil pada mata mengecil atau membesar ketika
terkena cahaya secara langsung.
1.2 Mata
diberi cahaya menggunkan senter melalui lubang sedotan. Kemudian kita mengamati
mata si subjek apakah pupil pada mata mengecil atau membesar.
1.3 Mata
diberi cahaya menggunakan senter dengan
media cermin. Kemudian kita mengamati mata kita sendiri menggunakan cermin yang
dipantulkan cahaya senter apakah pupil pada mata mengecil atau membesar
e. Hasil Percobaan : 1.1 Reaksi pupil
saat terkena cahaya senter
mengecil dengan cepat.
Hasil sebenarnya: pupil mata yang secara langsung terkena
cahaya senter secara tiba-tiba akan mengecil dengan cepat
1.2
reaksi pupil saat terkena cahaya senter melalui
lubang sedotan
mengecil secara perlahan.
Hasil sebenarnya:
pupil yang terkena cahaya senter melalui lobang sedotan, akan mengecil secara
perlahan
1.3
reaksi pupil saat terkena cahaya senter melalui
perantara cermin
mengecil secara perlahan
Hasil sebenarnya:
pupil mata yang terkena cahaya senter melalui perantara cermin akan mengecil
secara perlahan.
f.
Kesimpulan : Berdasarkan hasil percobaan dapat di
simpulkan
bahwa pupil membesar ketika melihat
ketempat yang gelap atau redup (Intensitas cahaya rendah), mengecil pada tempat
yang terang (Intensitas cahaya tinggi) dan pupil normal kembali ketika berada
ditempat yang tidak terlalu terang tidak juga terlalu gelap. Pupil akan mengalami peristiwa refleks pupil jika diberikan rangsangan
cahaya baik intensitasnya tinggi ataupun rendah.
g. Daftar Pustaka :
Wade, Carole, Carol Tavris. 2008. Psikologi.
Jakarta: Erlangga.
Pinel, John P.J.
2012. Biopsikologi. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
2. Percobaan : Indera Penglihatan 1
Nama Percobaan : Aliran darah pada retina (Peristiwa Entropis)
Nama Subjek Percobaan :
Raeshanty Zsazsa Marchelia H
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk melihat bahwa
pada mata terdapat eritrosit
yang berjalan sepanjang pembuluh darah arteri atau vena
b. Dasar Teori :
Menurut Kimbal (1983), mata dilapisi oleh tiga
lapisan yang berlainan. Salah satunya pada lapisan tengah
atau kedua, yang terdapat kholoid terbuka di bagian belakang yang banyak
pembuluh darah. Fungsi pembuluh darah ini menyuplai makanan dan oksigen ke
sel-sel mata. Retina merupakan selaput jala yang merupakan lapisan terdalam,
terdapat pembuluh darah arteri (pembuluh nadi untuk membawa darah dari jantung
ke seluruh tubuh) dan vena (pembuluh balik untuk membawa darah dari seluruh
tubuh ke jantung). Retina terdiri dari
lima lapisan yang berbeda, yaitu receptors, horizontal sel, bipolar sel,
amacrine cell, dan retinal ganglion cells yang letaknya dari belakang ke depan
bola mata. Masing-masing tipe neuron memiliki beragam subtipe, lebih dari 50
jenis neuron retina diketahui.
Menurut
Djing
(2006) retina adalah lapisan
jaringan peka cahaya
yang terletak dibagian bola mata. Retina berfungsi mengirimkan pesan visual
melalui syaraf optikus ke otak. Retina mengandung sadaf-saraf cahaya dan
pembulu darah. Bagian retina yang paling sensitif adalah makula,yang memiliki
ratusan ujung saraf. Jumlah ujung saraf yang terlalu banyak menyebabkan
gambaran visual yang tajam. Retina mengubah gambaran tersebut menjadigelombang
listrik yang dibawa oleh saraf optikus menuju otak
c. Alat yang digunakan : Senter dan kaca reben
d.
Jalannya Percobaan : 2.1
Mata diberi cahaya menggunakan senter.
Kemudian
kita mengamati mata si subjek apakah aliran darah terlihat dan lebih cepat atau
aliran darah tidak terlalu terlihat dan lambat.
2.2 Mata
diberi cahaya menggunakan senter dengan media kaca reben. Kemudian kita mengamati
mata si subjek apakah aliran darah terlihat dan lebih cepat atau aliran darah
tidak terlalu terlihat dan lambat.
e. Hasil Percobaan : 2.1 Aliran darah lebih cepat terlihat
Hasil sebenarnya: aliran darah lebih cepat terlihat
1.4
Aliran darah tidak terlalu terlihat atau lambat
Hasil sebenarnya:
aliran darah semakin tidak terlihat atau lambat
f.
Kesimpulan : Berdasarkan hasil percobaan dapat di
simpulkan
bahwa terdapat dua
jenis sel reseptor, yaitu sel batang (bacillus) dan sel kerucut (korus). Penyebaran
sel kerucut dan sel batang pada retina tidak merata pada manusia. Pada
percobaan, mata yang disinarkan cahaya senter secara langsung membuat eritrosit
bertambah banyak dan berjalan secara lambat dan dengan menggunakan kaca hitam,
eritrosit bertambah banyak dan tidak berjalan.
g. Daftar Pustaka : Djing, Oei Gin.
2006. Terapi Mata dengan Pijat
Ramuan. Jakarta:Redaksi Penebar Swadaya.
Kimbal, John. 1983. Biologi. Jakarta: Erlangga.
3.
Percobaan : Indera Penglihatan 1
Nama Percobaan : Visus (Ketajaman
Penglihatan)
Nama Subjek Percobaan : Nadila Nita Telyana Gulo
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk mengetahui ketajaman
penglihatan
seseorang
b.
Dasar Teori : Menurut Gabriel (1996), ketajaman penglihatan
dipergunakan untuk menentukan penggunaan kacamata. Visus penderita bukan saja memberi pengertian tentang optiknya (kacamata) tetapi mempunyai arti yang
lebih luas yaitu memberi keterangan tentang baik buruknya fungsi mata keseluruhannya. Oleh
karena itu definisi visus adalah nilai kebalikan sudut (dalam menit) terkecil
di mana sebuah benda masih kelihatan dan
dan dapat dibedakan Pada penentuan
visus, para ahli mata mempergunakan kartu
Snellen, dengan berbagai ukuran huruf dan
jarak yang sudah ditentukan. Misalnya mata normal pada waktu diperiksa diperoleh 20/40 berarti
penderita dapat membaca huruf pada
20ft (20ft = 4meter), sedangkan bagi mata normal dapat membaca
pada jarak 40ft.
Menurut Puspitawati (1999), Visus adalah ketajaman pengelihatan. Faktor-faktor yang mempengaruhi
kekuatan visus adalah sifat fisis mata, faktor stimulus dan faktor retina. Untuk
mengetahui visus dengan menggunakan suatu pecahan matematis yang menyatakan perbandingan
dua jarak, yang juga merupakan perbandingan ketajaman pengelihatan seseorang dengan
ketajaman pengelihatan orang normal
Menurut
Delp
(1986), ketajaman
penglihatan dinyatakan dalam bentuk
pecahan, dengan pembilangnya menunjukkan
jarak yang dipergunakan pada waktu
melakukan pemeriksaan, dalam kaki
atau meter, sedangkan penyebut
menunjukkan jarak gambar, angka atau huruf
mana yang dapat dibaca dengan tepat, akan membentuk sudut
sebesar 5 menit. Ketajaman penglihatan mata
anatomis normal rata-rata adalah 20/20 (kaki)
atau 6/6 (meter). Pemeriksaan yang tidadapat membaca huruf 20/200 besarnya,
harus disuruh maju mendekati kartu Snellen
sehingga akhirnya ia dapat membacanya.
c. Alat yang digunakan : Optotype Snellen
d. Jalannya Percobaan : 3.1 Setiap mahasiswa/i berdiri pada jarak 3,5meter
dari
Optotype Snellen. Kemudian melihat angka dan huruf yang masih dapat dibaca oleh
mata.
e. Hasil Percobaan : 3.1 Mata Kanan = 15;
Mata Kiri = 15; d=3,5meter
Mata Kanan
Mata Kiri
f.
Kesimpulan : Berdasarkan hasil percobaan, dapat di
simpulkan
bahwa ketajaman pengelihatan mata kanan dan mata kiri
seseorang dapat diketahui melalui optotype snellen, dan ketajaman mata kanan
dan kiri tidak selalu sama.
g.
Daftar Pustaka : Gabriel, J.F. 1996. Fisika
Kedokteran. Jakarta:
Buku Kedokteran EGC.
Puspitawati, Ira.
1999. Psikologi Faal. Jakarta:
Gunadarma.
Delp, H Mohlan. 1986. Major’s
Diagnosis Fisik.
4.
Percobaan :
Indera Penglihatan 1
Nama Percobaan : Membedakan warna dan percampuran
warna
secara objektif
Nama Subjek Percobaan : Nadila Nita Telyana Gulo
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan :
Untuk
mengetahui apakah seseorang dapat
membedakan warna atau buta warna
b.
Dasar Teori : Menurut Puspitawati (1999), pengelihatan warna
sangat di pengaruhi oleh tiga macam pigmen di dalam sel
kerucut sehingga sel kerucut/conus menjadi peka secara selektif terhadap berbagai
warna biru, merah dan hijau (Puspitawati,
1999: 92)
Menurut Sunaryo (2004), buta warna yaitu individu yang tidak dapat membedakan warna satu dengan warna yang lain. Buta warna merupakan kelainan yang
dibawa sejak lahir sehingga sampai saat ini
belum dapat disembuhkan. Penyebab
buta warna adalah tidak ada atau kurang
sempurnanya alat yang berfungsi
untuk membedakan warna pada retina
yang disebut cones.
Menurut Walgito (2010), orang yang mempunyai penglihatan normal orang tersebut dapat membedakan antara: (1) gelap dan
terang; (2) warna merah dan hijau; dan (3)warna biru dengan warna kuning. Orang tersebut disebut sebagai orang yang mempunyai kemampuan trikromat. Apabila salah satu kemampuan tidak dimiliki oleh seseorang maka orang tersebut disebut
orang yang buta warna.
c. Alat yang digunakan
: Kaca reben, benang wol berbagai
warna, kertas
berwarna merah, kertas berwarna kuning, dan kertas berwarna
biru
d.
Jalannya Percobaan : 4.1
percobaan kaca dan kertas warna
Kertas berwarna merah dan kuning diletakkan
berderet,
kemudian letakkan kaca reben ditengah antara kertas merah dan kuning membentuk
sudut 45o lalu lihat percampuran warna dari pantulan cahaya melalui
kaca tersebut.
-Kertas
berwarna merah dan biru diletakkan berderet, kemudian letakkan kaca reben
ditengah antara kertas merah dan biru membentuk sudut 45o lalu lihat
percampuran warna dari pantulan cahaya melalui kaca tersebut.
-Kertas
berwarna biru dan kuning diletakkan berderet, kemudian letakkan kaca reben
ditengah antara kertas biru dan kuning membentuk sudut 40o lalu lihat
percampuran warna dari pantulan cahaya melalui kaca tersebut
4.2 Percobaan benang wol
Tutor
menggenggam beberapa benang wol berbeda warna, begitu juga mahasiswa/i
menggenggam beberapa benang wol yang
berbeda warna. Kemudian tutor mengeluarkan satu warna dengan cepat secara acak
dan kita pun mengeluarkan satu warna dengan cepat sama seperti yang tutor
keluarkan,begitu seterusnya sampai 5 warna
e. Hasil Percobaan : 41. Hasil kaca dan
Kertas Warna
Merah + Biru = Ungu;
Hasil sebenarnya: merah+biru = ungu
Merah + Kuning = Orange;
Hasil sebenarnya = merah+kuning = orange
Biru + Kuning = Hijau
Hasil sebenarnya = biru+kuning = hijau
4.2 Hasil Percobaan Benang Wol
Benang wol = benar 5
Hasil sebenarnya =
benar 5
f.
Kesimpulan : Berdasarkan percobaan, dapat di
simpulkan bahwa
mata manusia yang normal dapat membedakan spectrum sinar
matahari yang umum menyebutkan merah, kuning, hijau, biru, orange, violet, dan
lain-lain. Ada 2 tes untuk mengetahui seseorang buta warna, yaitu Holmgren dan
Istihara. Seseorang yang mengalami buta warna sangat sulit untuk membedakan
percobaan membedakan 5 warna pada benang wool. Dari percobaan ini, ada beberapa
pencampuran warna yang menghasilkan warna baru, seperti : kuning dan biru
menjadi hijau, merah dan biru menjadi ungu serta merah dan kuning menjadi
orange.
g. Daftar Pustaka : Puspitawati, Ira.
1999. Psikologi Faal. Jakarta:
Gunadarma.
Sunaryo. 2004. PSIKOLOGI:
Untuk Keperawatan.Jakarta: Buku Kedokter EGC
Walgito, Bimo. 2010. Pengantar
Psikologi Umum.
Yogyakarta: ANDI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar