Sabtu, 21 Juli 2018

Indra Pengelihatan 1


LAPORAN PRAKTIKUM PSIKOLOGI FAAL



Nama Mahasiswa
NPM
Kelas
: Nadila Nita T.G
: 14517380
: 1PA20
Tanggal Pemeriksaan
Nama Asisten
Paraf Asisten
: 17 April 2018
: Dwi Maidaleni
:
:


1.    Percobaan                         : Indera Penglihatan 1
Nama Percobaan              : Refleks (Reaksi Pupil)
Nama Subjek Percobaan : Mia Rahmadesi
Tempat Percobaan           : Laboratorium Psikologi Faal
a.      Tujuan Percobaan    : Untuk mengetahui serta memahami reaksi-reaksi
  yang terjadi pada pupil mata
b.      Dasar Teori                : Menurut Wade (2008), jumlah cahaya yang masuk
ke mata diatur oleh otot -otot di iris, bagian yang memberikan warna mata. Iris mengelilingi celah yang melingkar, atau pupil mata. Ketika anda masuk ke dalam ruang yang sangat gelap, pupil menjadi lebar atau membesar untuk memungkinkan lebih banyak cahaya masuk. Ketika anda melihat cahaya matahari yang sangat menyilaukan, pupil mengecil atau melakukan kontraksi untuk membatasi jumlah cahaya yang masuk. Anda bisa melihat perubahan ini dengan mengamati mata anda pada sebuah cermin ketika anda mengubah-ubah pencahayaan.
Menurut Pinel (2012), cahaya memasuki mata melalui pupil, lubang di iris. Penyesuaian ukuran pupil sebagai respons terhadap berbagai perubahan iluminasi merepresentasikan sebuah kompromi antara sensitivity (sensitifitas/kepekaan, kemampuan untuk mendeteksi keberadaan benda-benda yang pendapat iluminasi yang redup) dan acuity (akuitas, kemampuan untuk melihat detail-detail objek). Bila tingkat iluminasi tinggi dan sensitivitas menjadi tidak penting, sistem visual memanfaatkan situasi dengan mengonstriksi (mengerutkan/menciutkan) pupil. Ketika pupil terkonstriksi, gambar yang jatuh di masing-masing retina lebih tajam dan kedalaman fokusnya pun lebih besar; artinya rentang kedalaman yang lebih besar terfokus secara simultan di retina. Akan tetapi, ketika tingkat iluminasi terlalu rendah untuk dapat mengaktifkan reseptor-reseptor visual secara dekat, pupil akan berdilatasi (melebar) untuk memungkinkan lebih banyak cahaya masuk, sehingga mengorbankan akuitas dan kedalaman fokus.
c.       Alat yang digunakan : Senter, sedotan dan cermin
d.      Jalannya Percobaan : 1.1 Mata diberi cahaya menggunakan senter.
Kemudian kita mengamati mata subjek, apakah pupil pada mata mengecil atau membesar ketika terkena cahaya secara langsung.
1.2 Mata diberi cahaya menggunkan senter melalui lubang sedotan. Kemudian kita mengamati mata si subjek apakah pupil pada mata mengecil atau membesar.
1.3 Mata diberi cahaya menggunakan senter  dengan media cermin. Kemudian kita mengamati mata kita sendiri menggunakan cermin yang dipantulkan cahaya senter apakah pupil pada mata mengecil atau membesar
e.       Hasil Percobaan        : 1.1 Reaksi pupil saat terkena cahaya senter
mengecil dengan cepat.
Hasil sebenarnya: pupil mata yang secara langsung terkena cahaya senter secara tiba-tiba akan mengecil dengan cepat
1.2  reaksi pupil saat terkena cahaya senter melalui
lubang sedotan mengecil secara perlahan.
Hasil sebenarnya: pupil yang terkena cahaya senter melalui lobang sedotan, akan mengecil secara perlahan
1.3  reaksi pupil saat terkena cahaya senter melalui
perantara cermin mengecil secara perlahan
Hasil sebenarnya: pupil mata yang terkena cahaya senter melalui perantara cermin akan mengecil secara perlahan.
f.        Kesimpulan                : Berdasarkan hasil percobaan dapat di simpulkan
bahwa  pupil membesar ketika melihat ketempat yang gelap atau redup (Intensitas cahaya rendah), mengecil pada tempat yang terang (Intensitas cahaya tinggi) dan pupil normal kembali ketika berada ditempat yang tidak terlalu terang tidak juga terlalu gelap. Pupil akan mengalami peristiwa refleks pupil jika diberikan rangsangan cahaya baik intensitasnya tinggi ataupun rendah.
g. Daftar Pustaka           : Wade, Carole, Carol Tavris. 2008. Psikologi.
Jakarta: Erlangga.
Pinel, John P.J. 2012. Biopsikologi. Yogyakarta:
 Pustaka Pelajar.






2. Percobaan                          : Indera Penglihatan 1
Nama Percobaan              : Aliran darah pada retina (Peristiwa Entropis)
Nama Subjek Percobaan : Raeshanty Zsazsa Marchelia H
Tempat Percobaan           : Laboratorium Psikologi Faal
a.      Tujuan Percobaan    : Untuk melihat bahwa pada mata terdapat eritrosit
yang berjalan sepanjang pembuluh darah arteri atau vena
b.      Dasar Teori                : Menurut Kimbal (1983), mata dilapisi oleh tiga
lapisan yang berlainan. Salah satunya pada lapisan tengah atau kedua, yang terdapat kholoid terbuka di bagian belakang yang banyak pembuluh darah. Fungsi pembuluh darah ini menyuplai makanan dan oksigen ke sel-sel mata. Retina merupakan selaput jala yang merupakan lapisan terdalam, terdapat pembuluh darah arteri (pembuluh nadi untuk membawa darah dari jantung ke seluruh tubuh) dan vena (pembuluh balik untuk membawa darah dari seluruh tubuh ke jantung).  Retina terdiri dari lima lapisan yang berbeda, yaitu receptors, horizontal sel, bipolar sel, amacrine cell, dan retinal ganglion cells yang letaknya dari belakang ke depan bola mata. Masing-masing tipe neuron memiliki beragam subtipe, lebih dari 50 jenis neuron retina diketahui.
Menurut Djing (2006) retina adalah lapisan
jaringan peka cahaya yang terletak dibagian bola mata. Retina berfungsi mengirimkan pesan visual melalui syaraf optikus ke otak. Retina mengandung sadaf-saraf cahaya dan pembulu darah. Bagian retina yang paling sensitif adalah makula,yang memiliki ratusan ujung saraf. Jumlah ujung saraf yang terlalu banyak menyebabkan gambaran visual yang tajam. Retina mengubah gambaran tersebut menjadigelombang listrik yang dibawa oleh saraf optikus menuju otak
c.       Alat yang digunakan : Senter dan kaca reben
d.      Jalannya Percobaan : 2.1 Mata diberi cahaya menggunakan senter.
Kemudian kita mengamati mata si subjek apakah aliran darah terlihat dan lebih cepat atau aliran darah tidak terlalu terlihat dan lambat.
2.2 Mata diberi cahaya menggunakan senter dengan media kaca reben. Kemudian kita mengamati mata si subjek apakah aliran darah terlihat dan lebih cepat atau aliran darah tidak terlalu terlihat dan lambat.
e.       Hasil Percobaan        : 2.1 Aliran darah lebih cepat terlihat
Hasil sebenarnya: aliran darah lebih cepat terlihat
1.4  Aliran darah tidak terlalu terlihat atau lambat
Hasil sebenarnya: aliran darah semakin tidak terlihat atau lambat
f.        Kesimpulan                : Berdasarkan hasil percobaan dapat di simpulkan
bahwa  terdapat dua jenis sel reseptor, yaitu sel batang (bacillus) dan sel kerucut (korus). Penyebaran sel kerucut dan sel batang pada retina tidak merata pada manusia. Pada percobaan, mata yang disinarkan cahaya senter secara langsung membuat eritrosit bertambah banyak dan berjalan secara lambat dan dengan menggunakan kaca hitam, eritrosit bertambah banyak dan tidak berjalan.
g.      Daftar Pustaka          : Djing, Oei Gin. 2006. Terapi Mata dengan Pijat
              Ramuan. Jakarta:Redaksi Penebar Swadaya.
Kimbal, John. 1983. Biologi. Jakarta: Erlangga.

3.    Percobaan                         : Indera Penglihatan 1
Nama Percobaan              : Visus (Ketajaman Penglihatan)
Nama Subjek Percobaan : Nadila Nita Telyana Gulo
Tempat Percobaan           : Laboratorium Psikologi Faal
a.      Tujuan Percobaan    : Untuk mengetahui ketajaman penglihatan
seseorang
b.      Dasar Teori                : Menurut Gabriel (1996), ketajaman penglihatan
dipergunakan untuk menentukan penggunaan kacamata. Visus penderita bukan saja memberi pengertian tentang optiknya (kacamata) tetapi mempunyai arti yang lebih luas yaitu memberi keterangan tentang baik buruknya fungsi mata keseluruhannya. Oleh karena itu definisi visus adalah nilai kebalikan sudut (dalam menit) terkecil di mana sebuah benda masih kelihatan dan dan dapat dibedakan Pada penentuan visus, para ahli mata mempergunakan kartu Snellen, dengan berbagai ukuran huruf dan jarak yang sudah ditentukan. Misalnya mata normal pada waktu diperiksa diperoleh 20/40 berarti penderita dapat membaca huruf pada 20ft (20ft = 4meter), sedangkan bagi mata normal dapat membaca pada jarak 40ft.
Menurut Puspitawati (1999), Visus adalah ketajaman pengelihatan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan visus adalah sifat fisis mata, faktor stimulus dan faktor retina. Untuk mengetahui visus dengan menggunakan suatu pecahan matematis yang menyatakan perbandingan dua jarak, yang juga merupakan perbandingan ketajaman pengelihatan seseorang dengan ketajaman pengelihatan orang normal
Menurut Delp (1986), ketajaman penglihatan dinyatakan dalam bentuk pecahan, dengan pembilangnya menunjukkan jarak yang dipergunakan pada waktu melakukan pemeriksaan, dalam kaki atau meter, sedangkan penyebut menunjukkan jarak gambar, angka atau huruf mana yang dapat dibaca dengan tepat, akan membentuk sudut sebesar 5 menit. Ketajaman penglihatan mata anatomis normal rata-rata adalah 20/20 (kaki) atau 6/6 (meter). Pemeriksaan yang tidadapat membaca huruf 20/200 besarnya, harus disuruh maju mendekati kartu Snellen sehingga akhirnya ia dapat membacanya.
c.       Alat yang digunakan : Optotype Snellen
d.      Jalannya Percobaan : 3.1 Setiap mahasiswa/i berdiri pada jarak 3,5meter
dari Optotype Snellen. Kemudian melihat angka dan huruf yang masih dapat dibaca oleh mata.
e.       Hasil Percobaan        : 3.1 Mata Kanan = 15; Mata Kiri = 15; d=3,5meter
Mata Kanan
Mata Kiri  
f.        Kesimpulan                : Berdasarkan hasil percobaan, dapat di simpulkan
bahwa ketajaman pengelihatan mata kanan dan mata kiri seseorang dapat diketahui melalui optotype snellen, dan ketajaman mata kanan dan kiri tidak selalu sama.
g.      Daftar Pustaka          : Gabriel, J.F. 1996. Fisika Kedokteran. Jakarta:
           Buku Kedokteran EGC.
Puspitawati, Ira. 1999. Psikologi Faal. Jakarta:
                                                Gunadarma.
Delp, H Mohlan. 1986. Major’s Diagnosis Fisik.


4.    Percobaan                         : Indera Penglihatan 1
Nama Percobaan              : Membedakan warna dan percampuran warna
  secara objektif
Nama Subjek Percobaan : Nadila Nita Telyana Gulo
Tempat Percobaan           : Laboratorium Psikologi Faal
a.      Tujuan Percobaan    : Untuk mengetahui apakah seseorang dapat
membedakan warna atau buta warna
b.     Dasar Teori                : Menurut Puspitawati (1999), pengelihatan warna
sangat di pengaruhi oleh tiga macam pigmen di dalam sel kerucut sehingga sel kerucut/conus menjadi peka secara selektif terhadap berbagai warna   biru, merah dan hijau (Puspitawati, 1999: 92)
Menurut Sunaryo (2004), buta warna yaitu individu yang tidak dapat membedakan warna satu dengan warna yang lain. Buta warna merupakan kelainan yang dibawa sejak lahir sehingga sampai saat ini belum dapat disembuhkan. Penyebab buta warna adalah tidak ada atau kurang sempurnanya alat yang berfungsi untuk membedakan warna pada retina yang disebut cones.
Menurut Walgito (2010), orang yang mempunyai penglihatan normal orang tersebut dapat membedakan antara: (1) gelap dan terang; (2) warna merah dan hijau; dan (3)warna biru dengan warna kuning. Orang tersebut disebut sebagai orang yang mempunyai kemampuan trikromat. Apabila salah satu kemampuan tidak dimiliki oleh seseorang maka orang tersebut disebut orang yang buta warna.


c.       Alat yang digunakan : Kaca reben, benang wol berbagai warna, kertas
berwarna merah, kertas berwarna kuning, dan kertas berwarna biru
d.      Jalannya Percobaan : 4.1 percobaan kaca dan kertas warna
Kertas berwarna merah dan kuning diletakkan
berderet, kemudian letakkan kaca reben ditengah antara kertas merah dan kuning membentuk sudut 45o lalu lihat percampuran warna dari pantulan cahaya melalui kaca tersebut.
-Kertas berwarna merah dan biru diletakkan berderet, kemudian letakkan kaca reben ditengah antara kertas merah dan biru membentuk sudut 45o lalu lihat percampuran warna dari pantulan cahaya melalui kaca tersebut.
-Kertas berwarna biru dan kuning diletakkan berderet, kemudian letakkan kaca reben ditengah antara kertas biru dan kuning membentuk sudut 40o lalu lihat percampuran warna dari pantulan cahaya melalui kaca tersebut
4.2 Percobaan benang wol
Tutor menggenggam beberapa benang wol berbeda warna, begitu juga mahasiswa/i menggenggam  beberapa benang wol yang berbeda warna. Kemudian tutor mengeluarkan satu warna dengan cepat secara acak dan kita pun mengeluarkan satu warna dengan cepat sama seperti yang tutor keluarkan,begitu seterusnya sampai 5 warna
e.       Hasil Percobaan        : 41. Hasil kaca dan Kertas Warna
Merah + Biru = Ungu;
Hasil sebenarnya: merah+biru = ungu
Merah + Kuning = Orange;
Hasil sebenarnya = merah+kuning = orange
Biru + Kuning = Hijau
Hasil sebenarnya = biru+kuning = hijau
4.2 Hasil Percobaan Benang Wol
Benang wol = benar 5
Hasil sebenarnya = benar 5
f.        Kesimpulan                : Berdasarkan percobaan, dapat di simpulkan bahwa
mata manusia yang normal dapat membedakan spectrum sinar matahari yang umum menyebutkan merah, kuning, hijau, biru, orange, violet, dan lain-lain. Ada 2 tes untuk mengetahui seseorang buta warna, yaitu Holmgren dan Istihara. Seseorang yang mengalami buta warna sangat sulit untuk membedakan percobaan membedakan 5 warna pada benang wool. Dari percobaan ini, ada beberapa pencampuran warna yang menghasilkan warna baru, seperti : kuning dan biru menjadi hijau, merah dan biru menjadi ungu serta merah dan kuning menjadi orange.
g.      Daftar Pustaka          : Puspitawati, Ira. 1999. Psikologi Faal. Jakarta:
                                                Gunadarma.
Sunaryo. 2004. PSIKOLOGI: Untuk Keperawatan.Jakarta: Buku Kedokter EGC
Walgito, Bimo. 2010. Pengantar Psikologi Umum.
Yogyakarta: ANDI



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Deindividuasi

Deindividuasi merupakan tahap psikilogis yang ditandai oleh hilangnya self awerness dan berkurangnya ketakutan individu karena berada dal...