Sabtu, 21 Juli 2018

Indra Pengelihatan 2

Nama Mahasiswa
NPM
Kelas
: Nadila Nita T.G
: 14517380
: 1PA20
Tanggal Pemeriksaan
Nama Asisten
Paraf Asisten               
: 17 April 2018
: Inggit Rosphiana
:
:




LAPORAN PRAKTIKUM PSIKOLOGI FAAL


1.      Percobaan                         : Indera Penglihatan 2
Nama Percobaan              : Buta Warna
Nama Subjek Percobaan : Nadila Nita Telyana Gulo
Tempat Percobaan           : Laboratorium Psikologi Faal
a.      Tujuan Percobaan    : Untuk mengetahui apakah seseorang menderita
buta warna atau tidak
b.      Dasar Teori                : Menurut Walgito (2010), dalam soal buta warna
didapati adanya dua golongan yang besar yaitu buta warna total atau keseluruhan dan buta warna sebagian atau partial. 1) Buta warna total ialah orang yang sama sekali tidak dapat membedakan warna-warna yang dilihatnya, semuanya terlihat kelabu. Buta warna total juga sering disebut sebagai monokromat. 2) Buta warna sebagian ialah orang yang tidak dapat membedakan warna-warna tertentu saja. Buta warna sebagian jugasering disebut sebagai dikromat. Buta warna sebagian dapat dibedakan menjadi buta warna merah-hijau (deuteranopia = green blindness & protonopia = red blindness) dan buta warna biru-kuning.
Menurut Sunaryo (2004), buta warna yaitu individu yang tidak dapat membedakan warna satu dengan warna yang lain. Buta warna merupakan kelainan yang dibawa sejak lahir sehingga sampai saat ini belum dapat disembuhkan. Penyebab buta warna adalah tidak ada atau kurang sempurnanya alat yang berfungsi untuk membedakan warna pada retina yang disebut cones.
Menurut Puspitawati (1999), untuk menyelidiki apakah seseorang menderita buta warna atau tidak dapat dilakukan dengan berbagai macam tes, antara lain: 1) TES HOLMGREN yaitu tes kemampuan membedakan warna dengan menggunakan benang-benang wol; 2) TES ISIHARA (Jepang) dan TES STILLING (Jerman), yaitu lukisan angka dan huruf dengan titik-titik yang terdiri dari beberapa macam warna.
c.       Alat yang digunakan : Kartu/buku uji Stiling Isihara dan Stiling Isihara 1
d.      Jalannya Percobaan : 1.1 Tutor menunjukkan gambar didalam buku
Stiling Isihara yang berupa angka dan kita harus menebak angka tersebut namun jika tidak terlihat ada angka cukup jawab istirahat.
e.       Hasil Percobaan        : 1.1 12, 8, 5, 29, 74, 7, 45, 2, istirahat, 16 , istirahat,
 96, 35, istirahat
Hasil sebenarnya : 12, 8, 5, 29, 74, 7, 45, 2, istirahat, 16 , istirahat, 96, 35, istirahat
f.        Kesimpulan                : Berdasarkan hasil percobaan, dapat di simpulkan
dan di ketahui bahwa seseorang yang mengalami buta warna dapat di ketahui dengan cara melakukan test isihara.
g.      Daftar Pustaka          : Puspitawati, Ira. 1999. Psikologi Faal. Jakarta:
           Universitas Gunadarma
Sunaryo. 2004. PSIKOLOGI: Untuk Keperawatan.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC
Walgito, Bimo. 2010. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: ANDI

2.      Percobaan                         : Indera Penglihatan 2
Nama Percobaan              : Bintik Noda Buta
Nama Subjek Percobaan : Nadila Nita Telyana Gulo
Tempat Percobaan           : Laboratorium Psikologi Faal
a.      Tujuan Percobaan    : Untuk mengetahui jarak (dalam cm) bintik buta
 seseorang serta menentukan letak proyeksi bintik
 buta
b.      Dasar Teori                : Menurut Yunita (2011), bintik buta adalah tempat
bertemunya syaraf mata dengan retina. Bintik buta adalah area kecil dimata yang tidak memiliki syaraf penglihatan. Jadi gambar yang jatuh di bintik buta tidak akan terlihat
Menurut Pinel (2009), retina dalam arti tertentu bersifat terbalik. Cahaya mencapai lapisan reseptor hanya setelah melalui keempat lapisan lainnya. Setelah itu, begitu reseptor-reseptor itu telah diaktifkan pesan, neural itu ditranslasikan balik melalui lapisan-lapisan retinal ke sel-sel ganglion retinal, yang akson-aksonnya berproyeksi di sekujur bagian dalam retina sebelum berkumpul dalam bentuk bandel dan keluar dari bola mata. Susunan terbalik ini menciptakan dua masalah visual. Yang pertama adalah cahaya yang dating terdistorsi oleh jaringan retinal yang harus dilaluinya sebelum mencapai reseptor. Masalah yang lain adalah bahwa agar bundel akson- akson sel ganglion retinal meninggalkan mata, harus ada sebuah celah di lapisan reseptor; celah itu dinamakan blind spot (titik buta).
Menurut Puspitawati (1999), noda buta adalah suatu titik dimana axon-axon meninggalkan mata sehingga tidak ada reseptor. Dinamakan noda buta karena tidak sensitif terhadap cahaya. Axon-axon ini berasal dari sel-sel ganglion yang di stimulasi oleh sel-sel bipoler akibat perangsangan dari conus dan basilus. Axon-axon ini kemudian membentuk nervus opticus. Ketika akan meninggalkan mata, tidak ada reseptor sehingga tidak sensitif terhadap rangsangan cahaya, akhirnya terjadi noda buta.
c.       Alat yang digunakan : Kertas hitam dengan tanda lingkaran dan tanda
 plus berwarna putih, penggaris atau meteran
d.      Jalannya Percobaan : 2.1 Setiap mahasiswa/i memegang kertas hitam
dengan tanda lingkaran dan plus dengan salah satu tangan. Kemudian salah satu tangan yang lain menutup sebelah mata, lalu kertas hitam tersebut didekatkan perlahan ke salah satu mata yang fokus pada salah satu tanda tersebut hingga salah satu tanda menghilang. Kemudian di ukur jaraknya, lalu didekatkan kembali sampai tanda itu muncul dan diukur jaraknya.
e.       Hasil Percobaan        : 2.1 Jarak medan noda buta = Jarak objek hilang-
jarak muncul
Jarak medan noda buta = 40cm - 34cm = 6cm
f.        Kesimpulan                : Berdasrkan hasil percobaan dapat diketahui bahwa
  setiap mata mempunyai perbedaan sudut pandang penglihatan mata kanan dan mata kiri memiliki perbedaan ketajaman melihat benda dari arah yang horizintal dan vertikal
g.    Daftar Pustaka          : Yunita, Poppy. 2011. Seri Biologi Organ Manusia.
Jakarta: PT. Gramedia.
Pinel, John P.J. 2009. Biopsikologi. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Puspitawati, Ira. 1999. Psikologi Faal. Jakarta:
           Universitas Gunadarma.
3.    Percobaan                         : Indera Penglihatan 2
Nama Percobaan              : Percobaan Maxwell
Nama Subjek Percobaan : Nadila Nita Telyana Gulo
Tempat Percobaan           : Laboratorium Psikologi Faal
a.      Tujuan Percobaan    : Untuk membuktikan adanya kelambatan (delay)
 retina; terjadinya pencampuran warna secara
 subjektif serta kontras yang simultan
b.      Dasar Teori                : Menurut Basuki (2008), retina yang terletak di
bagian paling belakang bola mata, merupakan lapisan film tipis, berisi sel-sel yang sangat peka terhadap cahaya. Sel-sel yang disebut photoreceptors (penerima foto) ini memulai proses transduksi dnegan menyerap gelombang-gelombang cahaya. Retina memiliki 3 lapisan sel (lapisan depan, lapisan tengah, dan lapisan belakang). Lapisan belakang berisi 2 macam penerima foto yang memulai proses transduksi, dengan mengubah gelombang cahaya menjadi sinyal elektrik. Salah satu jenis penerima foro yang bentuknya seperti batang, terletak terutama di batas luar retina. Penerima foto lain yang berbentuk kerucutm terletak di pusat retina pada suatu area yang disebut fovea.
Menurut Ganong (2008), teori Young-Helmholtz tentang pelihatan warna pada manusia mempostulasikan keberadaan tiga jenis sel kerucut, yang masing-masing mengandung foto pigmen berlainan dan paling peka terhadap salah satu dari ketiga warna primer. Sensasi dari setiap warna tertentu ditentukan oleh frekuensi relatif impuls dari ketiga sistem sel kerucut tersebut. Ketepatan terori ini telah dibuktikan melalui identifikasi dan karakterisasi kimia dari masing-masing ketiga pigmen (pigmen peka-biru atau gelombang-pendek) menyerap warna secara meksimum di spektrum bagian biru-ungu. Pigmen yang lain (pigmen peka-hijau atau gelombang menengah) menyerap warna maksimum di bagian hijau. Pigmen yang ketiga (pigmen peka merah atau gelombang panjang) menyerap warna maksimum di bagian kuning. Biru, hijau, dan merah adalah warna primer, tetapi sel kerucut yang memiliki penyerapan maksimum dibagian spektrum kuning cukup peka bagi bagian merah sehingga berespons terhadap cahaya merah dengan ambang yang lebih rendah daripada cahaya hijau. Kesenuanya dinyatakan dalam teori Young-Helmholtz.
Menurut Fudaryanto (2011), kelambatan dari
retina disebabkan oleh stimulasi cahaya yang berturut-turut dengan jarak antar stimulasi yang sangat dekat, menimbulkan penglihatan cahaya yang berkedip-kedip. Frekuensi minimal dimana penghantaran cahaya berkedip-kedip menjadi penglihatan cahaya yang terus menerus disebut frekuensi fusi. Secara fenomologis cahaya dapat didiskripsikan dari tiga dimensi, yaitu 1.    Brightness (intensitas cahaya) 2. Hue (corak warna / kualitas yang dideskripsikan oleh warna) 3. Saturation (kejernihan / keburaman cahaya) Seseorang dapat mendeteksi semua gradasi warna apabila cahaya monokromatik, yaitu merah, hijaum dan biru dicampur dengan tepat dalam berbagai kondisi. Dalam proses penglihatan warna ada dua macam pencampuran, yaitu 1. Pencampuran warna aditif. Pencamuran dari dua warna atau lebih yang dapat menghasilkan sensasi warna baru. Dan ditinjau dari segi fisiologisnya pencampuran dibagi atas dua pencampuran, yaitu pencampuran subjektif dan pencampuran substraktif. 2. Pencampuran warna substraktif. Pencampuran ini terjadi pigmen-pigmen dicampur atau bila cahaya disinari melalui filter berwarna yang diletakkan satu diatas yang lain, dimana akan timbul warna baru yang sulit kita perkirakan.
c.       Alat yang digunakan : Alat pemutar Maxwell; Kertas lingkaran dengan
sektor putih-hitam; Kertas lingkaran berwarna merah, hijau kuning, biru, dan ungu; Kertas lingkaran hitam putih dengan jari-jari lebih kecil serta kertas lingkaran berwarna merah, hijau, kuning, biru dan ungu yang diselingi garis hitam tebal
d.      Jalannya Percobaan : -
e.       Hasil Percobaan        :  Timeout
f.        Kesimpulan                : Berdasarkan hasil percobaan, dapat di simpulkan
dan di ketahui bahwa mata mempunyai perbandingan dengan melihat warna, beberapa warna yang digabung dan diputar cepat akan menimbulkan warna baru. Kemudian retina mempunyai kelambatan dalam melihat sehingga mengubah yang dilihat.
g.      Daftar Pustaka          :  Basuki, M. H. 2008. Psikologi Umum. Jakarta:
Universitas Gunadarma.
Ganong, W. F. 2008. Fisiologi Kedokteran.
Jakarta: EGC.
Fudaryanto, K. 2011. Psikologi Umum 1 dan 2.
 Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
4.    Percobaan                         : Indera Penglihatan 2
Nama Percobaan              : Horizontal Lines Parallel
Nama Subjek Percobaan : Nadila Nita Telyana Gulo
Tempat Percobaan           : Laboratorium Psikologi Faal
a.      Tujuan Percobaan    : Untuk mengetahui bahwa balok-balok yang
 terlihat tidak sejajar sebenarnya sama lebar
b.      Dasar Teori                : Menurut Carlson (2003), korteks visual terdiri dari
korteks striate dan dua aliran asosiasi korteks visual. Aliran ventral, yang berakhir dengan korteks temporal rendah, terlibat dengan persepsi objek. Lesi daerah ini mengganggu persepsi objek visual. Juga, neuron tunggal dalam korteks temporal rendah merespon terbaik untuk rangsangan kompleks dan terus melakukannya bahkan jika objek tersebut akan dipindahkan ke latar belakang yang berbeda, atau sebagian tersembunyi. Aliran dorsal, yang berakhir dengan posterior parietal cortex, yang terlibat dengan persepsi gerakan, lokasi, perhatian visual, dan pengendalian gerakan mata dan tangan. Setidaknya ada dua lusin subregional yang berbeda dari korteks visual, diatur dalam mode hirarkis. Setiap analisis karakteristik tertentu informasi visual dan pasess hasil analisis ini ke daerah lain dalam hirarki.
Menurut Plotnik (dalam buku Basuki, 2008), terdapat 4 macam ketetapan persepsi yaitu ukuran kecerahan, bentuk dan warna. Salah satunya adalah persepsi kontansi ukuran (size constancyi), yang mengacu pada kecenderungan merasakan bahwa ukuran objek tetap sama, bahkan ketika terkesan yang ada pada retina terus-menerus berkembang atau menyusut. Sebagai misalnya, mobil yang sedang melaku menjauh, menjadi lebih kecil pada kesan di retina.  Walaupun kesan di retina menjadi lebih kecil, mobil tadi tidak dirasakan berubah karena adanya keajegan ukuran. Dan selanjutnya ada persepsi kontansi bentuk (shape constancy) mengacu pada kecenderungan merasakan adanya kesamaan bentuk, walaupun dilihat dari sudut yang berbeda, bentuk ini terus-menerus berubah pada kesan di retina.
c.       Alat yang digunakan : Kertas bergambar balok-balok yang tersusun tidak
 sejajar
d.      Jalannya Percobaan : 4.1 Setiap mahasiswa/i disuruh untuk                                                            memperhatikan kertas bergambar balok-balok                                                apakah sejajar dan sama lebarnya.
e.       Hasil Percobaan        : 4.1 Balok-balok tersebut terlihat sejajar dan sama                                         lebar
   Hasil sebenarnya: balok tersebut sejajarnya dan sama lebar
f.        Kesimpulan                : Berdasarkan hasil percobaan, dapat di simpulkan
dan di ketahui bahwa banyak orang yang sulit  menentukan balok tersebut sama atau beda lebarnya, karena presepsi dari seseorang tersebut terasa sulit untuk membedakan balok tersebut lurus atau tidak
g.      Daftar Pustaka          : Carlson, N. R. 2003. Physiology of Behavior.
 New York: Pearson.
Basuki, M. H. 2008. Psikologi Umum. Jakarta:
 Universitas Gunadarma.



5.    Percobaan                         : Indera Penglihatan 2
Nama Percobaan              : Black Dots
Nama Subjek Percobaan : Nadila Nita Telyana Gulo
Tempat Percobaan           : Laboratorium Psikologi Faal
a.      Tujuan Percobaan    : Untuk membuktikan berapa banyak bulatan hitam
yang dapat dilihat dari bulatan-bulatan putih yang terletak disudut kotak hitam.
b.      Dasar Teori                : Menurut Puspitawati (2014), terjadinya bayangan
di retina dan timbulnya impuls syaraf untuk dikirim ke fissura calcarina menyangkut perubahan kimiawi dari fotoreseptor di conus dan bacillus. Bayangan yang terjadi di retina dibandingkan objeknya adalah lebih kecil, terbalik, hitam, dan dua dimensi. Pengelolahan informasi penglihatan dalam retina menyangkut pembentukan 3 bayangan. Bayangan pertama dibentuk oleh efek cahaya pada fotoresptor diubah menjadi bayangan kedua dalam sel-sel bipolar lalu diubah lagi menjadi menjadi bayangan ketiga dalam sel-sel ganglion. Pada pengubahan bayangan kedua impuls diubah oleh sel horizontal, pada pembentukan bayangan ketiga impuls diubah oleh sel amacrin. Pada corpus geniculatum laterale hampir tidak terjadi perubahan pola impuls, sehingga bayangan ketiga mencapai lobus occipitalis. Pada lobus occipitalis terjadi fungsi kedua bayangan dari dari mata kanan dan kiri, yang artinya kedua bayangan tadi diolah menjadi satu bayangan dalam kesadaran manusia. Di bagian ini terjadi kesadaran bahwa objek yang dilihat jika dibandingkan dengan bayangan di retina adalah lebih besar, tegak, 3 dimensi dan berwarna-warni. Penipuan penglihatan dapat terjadi jika sinar yang masuk tidak jatuh pada bagian sentral dari retina. Penipuan penglihatan ini disebut fenomena fosfen. Untuk membuktikan fenomena tersebut dapat digunakan percobaan black dots. Percobaan itu memiliki tujuan untuk membuktikan ada berapa banyak titik hitam yang terlihat di sudut kotak putih.
c.       Alat yang digunakan : Kertas bergambar kotak-kotak hitam dan ditiap
 sudut ada bulatan putih
d.      Jalannya Percobaan :5.1 Setiap mahasiswa/i diminta untuk
memperhatikan kertas bergambar kotak-kotak, kemudian menghitung banyaknya bulatan hitam dari bulatan putih yang terletak disudut                kotak hitam
e.       Hasil Percobaan        : 5.1 Ada banyak atau tak terhitung
Hasil sebenarnya: tidak terhingga
f.        Kesimpulan                : Berdasrkan hasil percobaan dapat diketahui bahwa
ketika mata fokus terhadap bulatan putih yang disudut kotak hitam, maka akan tampil titik-titik hitam yang tak terhingga disekitarnya
g.      Daftar Pustaka          :Puspitawati, I., Hapsari, I. I., & Suryaratri, R. D.
2014. Psikologi Faal. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.








6.    Percobaan                         : Indera Penglihatan 2
Nama Percobaan              : Lingkaran yang sama atau beda
Nama Subjek Percobaan : Nadila Nita Telyana Gulo
Tempat Percobaan           : Laboratorium Psikologi Faal
a.      Tujuan Percobaan    : Untuk membuktikan dua  buah lingkaran putih
yang dikelilingi bulatan-bulatan putih yang lebih    kecil dan lebih besar adalah sama atau tidak
b.      Dasar Teori                : Menurut Ganong (2008), mata mengubah energy
dari spektrum yang dapat terlihat menjadi potensial aksi di saraf optikus. Bayang suatu benda di dalam lingkungan difokuskan di retina. Berkas cahaya yang mencapai retina akan mencetuskan potensial di dalam sel kerucut dan batang. Impuls yang timbul di retina dihantarkan ke korteks selebri, tempat impuls tersebut menimbulkan sensasi.
Menurut Plotnik (dalam buku Basuki, 2008), terdapat 4 macam ketetapan persepsi yaitu ukuran kecerahan, bentuk dan warna. Salah satunya adalah persepsi kontansi ukuran (size constancyi), yang mengacu pada kecenderungan merasakan bahwa ukuran objek tetap sama, bahkan ketika terkesan yang ada pada retina terus-menerus berkembang atau menyusut. Sebagai misalnya, mobil yang sedang melaku menjauh, menjadi lebih kecil pada kesan di retina. Walaupun kesan di retina menjadi lebih kecil, mobil tadi tidak dirasakan berubah karena adanya keajegan ukuran. Dan selanjutnya ada persepsi kontansi bentuk (shape constancy) mengacu pada kecenderungan merasakan adanya kesamaan bentuk, walaupun dilihat dari sudut yang berbeda, bentuk ini terus-menerus berubah pada kesan di retina.
Menurut Carlson (2003), korteks visual terdiri dari korteks striate dan dua aliran asosiasi korteks visual. Aliran ventral, yang berakhir dengan korteks temporal rendah, terlibat dengan persepsi objek. Lesi daerah ini mengganggu persepsi objek visual. Juga, neuron tunggal dalam korteks temporal rendah merespon terbaik untuk rangsangan kompleks dan terus melakukannya bahkan jika objek tersebut akan dipindahkan ke latar belakang yang berbeda, atau sebagian tersembunyi. Aliran dorsal, yang berakhir dengan posterior parietal cortex, yang terlibat dengan persepsi gerakan, lokasi, perhatian visual, dan pengendalian gerakan mata dan tangan. Setidaknya ada dua lusin subregional yang berbeda dari korteks visual, diatur dalam mode hirarkis. Setiap analisis karakteristik tertentu informasi visual dan pasess hasil analisis ini ke daerah lain dalam hirarki.
c.       Alat yang digunakan   : Kertas bergambar lingkaran putih, yang satu
(sebelah kiri) dikelilingi bulatan-bulatan putih yang lebih kecil dari bulatan putih utama, sedangkan yang satu lagi (sebelah kanan) lingkaran putih yang berada ditengah dikelilingi oleh bulatan-bulatan putih yang lebih besar besar dari lingkaran utama
d.      Jalannya Percobaan : 6.1 Setiap mahasiswa/i diminta untuk
memperhatikan kertas bergambar lingkaran putih yang satu dikelilingi bulatan putih lebih kecil daripada bulatan putih utama, dan satu lagi lingkaran putih yang ditengah dikelilingi oleh bulatan putih yang lebih besar.
e.      Hasil Percobaan        : 6.1 Kedua lingkaran putih yang ditengah sama
Hasil sebenarnya: kedua lingkaran sama besar
f.        Kesimpulan                : Berdasarkan hasil percobaan, dapat di simpulkan
dan di ketahui bahwa penipuan penglihatan dapat terjadi bila sinar yang masuk tidak jatuh pada bagian sentral dari retina. Penipuan penglihatan ini disebut Fenomena fosfen, dari percobaan ini, dapat disimpulkan bahwa kedua lingkaran pusat memiliki besar yang sama.
g.      Daftar Pustaka          : Ganong, W. F. 2008. Fisiologi Kedokteran
                                                  Jakarta: EGC.
Basuki, M. H. 2008. Psikologi Umum. Jakarta:
Universitas Gunadarma.
Carlson, N. R. 2003. Physiology of Behavior. New
York: Pearson.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Deindividuasi

Deindividuasi merupakan tahap psikilogis yang ditandai oleh hilangnya self awerness dan berkurangnya ketakutan individu karena berada dal...