|
Nama Mahasiswa
NPM
Kelas
|
: Nadila Nita T.G
: 14517380
: 1PA20
|
Tanggal Pemeriksaan
Nama Asisten
Paraf Asisten
|
: 17 April 2018
: Inggit Rosphiana
:
:
|
LAPORAN PRAKTIKUM
PSIKOLOGI FAAL
1.
Percobaan : Indera Penglihatan 2
Nama Percobaan : Buta Warna
Nama Subjek Percobaan : Nadila Nita Telyana Gulo
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk mengetahui apakah
seseorang menderita
buta warna atau tidak
b.
Dasar Teori : Menurut
Walgito (2010), dalam soal buta warna
didapati adanya
dua golongan yang besar yaitu buta warna total atau keseluruhan dan buta warna
sebagian atau partial. 1) Buta warna total ialah orang yang sama sekali tidak
dapat membedakan warna-warna yang dilihatnya, semuanya terlihat kelabu. Buta
warna total juga sering disebut sebagai monokromat. 2) Buta warna sebagian
ialah orang yang tidak dapat membedakan warna-warna tertentu saja. Buta warna
sebagian jugasering disebut sebagai dikromat. Buta warna sebagian dapat
dibedakan menjadi buta warna merah-hijau (deuteranopia = green blindness &
protonopia = red blindness) dan buta warna biru-kuning.
Menurut
Sunaryo (2004), buta warna yaitu individu yang tidak dapat
membedakan warna satu dengan warna yang lain. Buta warna merupakan kelainan
yang dibawa sejak lahir sehingga sampai saat ini belum dapat disembuhkan.
Penyebab buta warna adalah tidak ada atau kurang sempurnanya alat yang
berfungsi untuk membedakan warna pada retina yang disebut cones.
Menurut
Puspitawati (1999), untuk menyelidiki apakah seseorang menderita
buta warna atau tidak dapat dilakukan dengan berbagai macam tes, antara lain: 1) TES HOLMGREN yaitu tes kemampuan
membedakan warna dengan menggunakan benang-benang wol; 2) TES ISIHARA (Jepang) dan TES STILLING (Jerman), yaitu lukisan angka dan
huruf dengan titik-titik yang terdiri dari beberapa macam warna.
c. Alat yang digunakan : Kartu/buku uji
Stiling Isihara dan Stiling Isihara 1
d.
Jalannya Percobaan : 1.1 Tutor
menunjukkan gambar didalam buku
Stiling
Isihara yang berupa angka dan kita harus menebak angka tersebut namun jika
tidak terlihat ada angka cukup jawab istirahat.
e. Hasil Percobaan : 1.1 12, 8, 5, 29, 74,
7, 45, 2, istirahat, 16 , istirahat,
96, 35, istirahat
Hasil sebenarnya :
12, 8, 5, 29, 74, 7, 45, 2, istirahat, 16 , istirahat, 96, 35, istirahat
f.
Kesimpulan : Berdasarkan hasil percobaan,
dapat di simpulkan
dan di ketahui bahwa seseorang yang mengalami buta warna
dapat di ketahui dengan cara melakukan test isihara.
g.
Daftar Pustaka : Puspitawati, Ira. 1999. Psikologi Faal. Jakarta:
Universitas Gunadarma
Sunaryo.
2004. PSIKOLOGI: Untuk Keperawatan.
Jakarta: Buku Kedokteran
EGC
Walgito,
Bimo. 2010. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta:
ANDI
2.
Percobaan : Indera Penglihatan 2
Nama Percobaan : Bintik Noda Buta
Nama Subjek Percobaan : Nadila Nita Telyana Gulo
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk mengetahui
jarak (dalam cm) bintik buta
seseorang serta menentukan letak proyeksi
bintik
buta
b. Dasar Teori : Menurut Yunita (2011), bintik buta adalah tempat
bertemunya
syaraf mata dengan retina. Bintik buta adalah area kecil dimata yang tidak
memiliki syaraf penglihatan. Jadi gambar yang jatuh di bintik buta tidak akan
terlihat
Menurut
Pinel (2009), retina dalam arti tertentu bersifat terbalik. Cahaya
mencapai lapisan reseptor
hanya setelah melalui keempat lapisan lainnya. Setelah itu, begitu reseptor-reseptor
itu telah
diaktifkan pesan,
neural itu ditranslasikan balik
melalui lapisan-lapisan retinal ke sel-sel ganglion retinal, yang akson-aksonnya
berproyeksi di sekujur bagian dalam retina sebelum berkumpul dalam
bentuk bandel dan keluar
dari bola mata.
Susunan terbalik ini menciptakan
dua masalah visual. Yang pertama adalah
cahaya yang dating terdistorsi oleh jaringan retinal yang harus dilaluinya
sebelum mencapai
reseptor. Masalah yang lain adalah bahwa agar bundel akson- akson sel ganglion retinal meninggalkan mata, harus ada sebuah celah di lapisan reseptor; celah itu dinamakan blind spot (titik buta).
Menurut
Puspitawati (1999), noda buta adalah suatu titik dimana axon-axon meninggalkan
mata sehingga tidak ada reseptor. Dinamakan noda buta karena tidak sensitif
terhadap cahaya. Axon-axon ini berasal dari sel-sel ganglion yang di stimulasi
oleh sel-sel bipoler akibat perangsangan dari conus dan basilus. Axon-axon ini
kemudian membentuk nervus opticus. Ketika akan meninggalkan mata, tidak ada
reseptor sehingga tidak sensitif terhadap rangsangan cahaya, akhirnya terjadi
noda buta.
c. Alat yang digunakan : Kertas hitam dengan
tanda lingkaran dan tanda
plus berwarna
putih, penggaris atau meteran
d. Jalannya Percobaan : 2.1 Setiap mahasiswa/i memegang kertas hitam
dengan
tanda lingkaran dan plus dengan salah satu tangan. Kemudian salah satu tangan
yang lain menutup sebelah mata, lalu kertas hitam tersebut didekatkan perlahan
ke salah satu mata yang fokus pada salah satu tanda tersebut hingga salah satu
tanda menghilang. Kemudian di ukur jaraknya, lalu didekatkan kembali sampai
tanda itu muncul dan diukur jaraknya.
e. Hasil Percobaan : 2.1 Jarak medan noda
buta = Jarak objek hilang-
jarak muncul
Jarak
medan noda buta = 40cm - 34cm = 6cm
f.
Kesimpulan : Berdasrkan hasil percobaan dapat
diketahui bahwa
setiap mata mempunyai perbedaan
sudut pandang penglihatan mata kanan dan mata kiri memiliki perbedaan ketajaman
melihat benda dari arah yang horizintal dan vertikal
g. Daftar Pustaka : Yunita, Poppy. 2011. Seri
Biologi Organ Manusia.
Jakarta:
PT. Gramedia.
Pinel, John P.J.
2009. Biopsikologi.
Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Puspitawati,
Ira. 1999. Psikologi Faal. Jakarta:
Universitas
Gunadarma.
3.
Percobaan :
Indera
Penglihatan 2
Nama Percobaan : Percobaan Maxwell
Nama Subjek Percobaan : Nadila Nita Telyana Gulo
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a.
Tujuan Percobaan : Untuk membuktikan adanya kelambatan (delay)
retina; terjadinya pencampuran warna secara
subjektif serta
kontras yang simultan
b.
Dasar Teori : Menurut Basuki (2008), retina yang
terletak di
bagian paling belakang bola mata, merupakan lapisan film
tipis, berisi sel-sel yang sangat peka terhadap cahaya. Sel-sel yang disebut photoreceptors
(penerima foto) ini memulai proses transduksi dnegan menyerap
gelombang-gelombang cahaya. Retina memiliki 3 lapisan sel (lapisan depan,
lapisan tengah, dan lapisan belakang). Lapisan belakang berisi 2 macam penerima
foto yang memulai proses transduksi, dengan mengubah gelombang cahaya menjadi
sinyal elektrik. Salah satu jenis penerima foro yang bentuknya seperti batang,
terletak terutama di batas luar retina. Penerima foto lain yang berbentuk
kerucutm terletak di pusat retina pada suatu area yang disebut fovea.
Menurut Ganong (2008), teori Young-Helmholtz tentang pelihatan warna pada manusia
mempostulasikan keberadaan tiga jenis sel kerucut, yang masing-masing
mengandung foto pigmen berlainan dan paling peka terhadap salah satu dari
ketiga warna primer. Sensasi dari setiap warna tertentu ditentukan oleh
frekuensi relatif impuls dari ketiga sistem sel kerucut tersebut. Ketepatan
terori ini telah dibuktikan melalui identifikasi dan karakterisasi kimia dari
masing-masing ketiga pigmen (pigmen peka-biru atau gelombang-pendek) menyerap
warna secara meksimum di spektrum bagian biru-ungu. Pigmen yang lain (pigmen
peka-hijau atau gelombang menengah) menyerap warna maksimum di bagian hijau.
Pigmen yang ketiga (pigmen peka merah atau gelombang panjang) menyerap warna
maksimum di bagian kuning. Biru, hijau, dan merah adalah warna primer, tetapi
sel kerucut yang memiliki penyerapan maksimum dibagian spektrum kuning cukup
peka bagi bagian merah sehingga berespons terhadap cahaya merah dengan ambang
yang lebih rendah daripada cahaya hijau. Kesenuanya dinyatakan dalam teori
Young-Helmholtz.
Menurut Fudaryanto (2011),
kelambatan dari
retina disebabkan oleh stimulasi cahaya yang berturut-turut dengan
jarak antar stimulasi yang sangat dekat, menimbulkan penglihatan cahaya yang
berkedip-kedip. Frekuensi minimal dimana penghantaran cahaya berkedip-kedip
menjadi penglihatan cahaya yang terus menerus disebut frekuensi fusi.
Secara fenomologis cahaya dapat didiskripsikan dari tiga dimensi, yaitu 1. Brightness (intensitas
cahaya) 2. Hue (corak warna / kualitas yang
dideskripsikan oleh warna) 3. Saturation (kejernihan
/ keburaman cahaya) Seseorang dapat mendeteksi semua gradasi warna
apabila cahaya monokromatik, yaitu merah, hijaum dan biru dicampur
dengan tepat dalam berbagai kondisi. Dalam proses penglihatan warna ada dua
macam pencampuran, yaitu 1. Pencampuran warna aditif. Pencamuran dari dua warna atau lebih
yang dapat menghasilkan sensasi warna baru. Dan ditinjau dari segi
fisiologisnya pencampuran dibagi atas dua pencampuran, yaitu pencampuran
subjektif dan pencampuran substraktif. 2. Pencampuran warna substraktif. Pencampuran ini terjadi pigmen-pigmen
dicampur atau bila cahaya disinari melalui filter berwarna yang diletakkan satu
diatas yang lain, dimana akan timbul warna baru yang sulit kita perkirakan.
c. Alat yang digunakan : Alat pemutar
Maxwell; Kertas lingkaran dengan
sektor putih-hitam; Kertas lingkaran berwarna merah,
hijau kuning, biru, dan ungu; Kertas lingkaran hitam putih dengan jari-jari
lebih kecil serta kertas lingkaran berwarna merah, hijau, kuning, biru dan ungu
yang diselingi garis hitam tebal
d.
Jalannya Percobaan : -
e. Hasil Percobaan :
Timeout
f.
Kesimpulan : Berdasarkan hasil percobaan,
dapat di simpulkan
dan di ketahui bahwa mata mempunyai perbandingan dengan
melihat warna, beberapa warna yang digabung dan diputar cepat akan menimbulkan
warna baru. Kemudian retina mempunyai kelambatan dalam melihat sehingga
mengubah yang dilihat.
g.
Daftar Pustaka : Basuki, M. H. 2008. Psikologi Umum. Jakarta:
Universitas Gunadarma.
Ganong,
W. F. 2008. Fisiologi Kedokteran.
Jakarta: EGC.
Fudaryanto,
K. 2011. Psikologi Umum 1 dan 2.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
4.
Percobaan : Indera Penglihatan 2
Nama Percobaan : Horizontal Lines Parallel
Nama Subjek Percobaan : Nadila Nita Telyana Gulo
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk mengetahui bahwa
balok-balok yang
terlihat tidak
sejajar sebenarnya sama lebar
b.
Dasar Teori : Menurut Carlson (2003), korteks
visual terdiri dari
korteks striate dan dua aliran asosiasi korteks visual.
Aliran ventral, yang berakhir dengan korteks temporal rendah, terlibat dengan
persepsi objek. Lesi daerah ini mengganggu persepsi objek visual. Juga, neuron
tunggal dalam korteks temporal rendah merespon terbaik untuk rangsangan
kompleks dan terus melakukannya bahkan jika objek tersebut akan dipindahkan ke
latar belakang yang berbeda, atau sebagian tersembunyi. Aliran dorsal, yang
berakhir dengan posterior parietal cortex, yang terlibat dengan persepsi
gerakan, lokasi, perhatian visual, dan pengendalian gerakan mata dan tangan.
Setidaknya ada dua lusin subregional yang berbeda dari korteks visual, diatur
dalam mode hirarkis. Setiap analisis karakteristik tertentu informasi visual
dan pasess hasil analisis ini ke daerah lain dalam hirarki.
Menurut Plotnik (dalam buku Basuki, 2008), terdapat 4 macam
ketetapan persepsi yaitu ukuran kecerahan, bentuk dan warna. Salah satunya
adalah persepsi kontansi ukuran (size constancyi), yang mengacu pada
kecenderungan merasakan bahwa ukuran objek tetap sama, bahkan ketika terkesan
yang ada pada retina terus-menerus berkembang atau menyusut. Sebagai misalnya,
mobil yang sedang melaku menjauh, menjadi lebih kecil pada kesan di retina. Walaupun kesan di retina menjadi lebih kecil, mobil tadi
tidak dirasakan berubah karena adanya keajegan ukuran. Dan selanjutnya ada
persepsi kontansi bentuk (shape constancy) mengacu pada kecenderungan
merasakan adanya kesamaan bentuk, walaupun dilihat dari sudut yang berbeda,
bentuk ini terus-menerus berubah pada kesan di retina.
c. Alat yang digunakan : Kertas bergambar
balok-balok yang tersusun tidak
sejajar
d.
Jalannya Percobaan : 4.1 Setiap
mahasiswa/i disuruh untuk memperhatikan kertas bergambar balok-balok apakah sejajar dan sama lebarnya.
e.
Hasil Percobaan : 4.1 Balok-balok tersebut terlihat sejajar dan sama lebar
Hasil sebenarnya: balok tersebut sejajarnya
dan sama lebar
f.
Kesimpulan : Berdasarkan hasil percobaan,
dapat di simpulkan
dan di ketahui bahwa banyak orang yang sulit menentukan balok tersebut sama atau beda
lebarnya, karena presepsi dari seseorang tersebut terasa sulit untuk membedakan
balok tersebut lurus atau tidak
g.
Daftar Pustaka : Carlson, N. R. 2003. Physiology
of Behavior.
New York: Pearson.
Basuki, M. H. 2008. Psikologi Umum. Jakarta:
Universitas Gunadarma.
5.
Percobaan : Indera Penglihatan 2
Nama Percobaan : Black Dots
Nama Subjek Percobaan : Nadila Nita Telyana Gulo
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk membuktikan
berapa banyak bulatan hitam
yang dapat dilihat dari bulatan-bulatan putih yang terletak
disudut kotak hitam.
b. Dasar Teori : Menurut Puspitawati (2014),
terjadinya bayangan
di retina dan timbulnya impuls syaraf untuk dikirim ke fissura
calcarina menyangkut perubahan kimiawi dari fotoreseptor di conus
dan bacillus. Bayangan yang terjadi di retina dibandingkan objeknya
adalah lebih kecil, terbalik, hitam, dan dua dimensi. Pengelolahan informasi
penglihatan dalam retina menyangkut pembentukan 3 bayangan. Bayangan pertama
dibentuk oleh efek cahaya pada fotoresptor diubah menjadi bayangan
kedua dalam sel-sel bipolar lalu diubah lagi menjadi menjadi bayangan
ketiga dalam sel-sel ganglion. Pada pengubahan bayangan kedua impuls
diubah oleh sel horizontal, pada pembentukan bayangan ketiga impuls
diubah oleh sel amacrin. Pada corpus geniculatum laterale hampir
tidak terjadi perubahan pola impuls, sehingga bayangan ketiga mencapai lobus
occipitalis. Pada lobus occipitalis terjadi fungsi kedua
bayangan dari dari mata kanan dan kiri, yang artinya kedua bayangan tadi diolah
menjadi satu bayangan dalam kesadaran manusia. Di bagian ini terjadi kesadaran
bahwa objek yang dilihat jika dibandingkan dengan bayangan di retina adalah
lebih besar, tegak, 3 dimensi dan berwarna-warni. Penipuan penglihatan dapat
terjadi jika sinar yang masuk tidak jatuh pada bagian sentral dari retina.
Penipuan penglihatan ini disebut fenomena fosfen. Untuk membuktikan
fenomena tersebut dapat digunakan percobaan black dots. Percobaan itu
memiliki tujuan untuk membuktikan ada berapa banyak titik hitam yang terlihat
di sudut kotak putih.
c. Alat yang digunakan : Kertas bergambar
kotak-kotak hitam dan ditiap
sudut ada bulatan
putih
d.
Jalannya Percobaan :5.1 Setiap
mahasiswa/i diminta untuk
memperhatikan
kertas bergambar kotak-kotak, kemudian menghitung banyaknya bulatan hitam dari
bulatan putih yang terletak disudut kotak hitam
e.
Hasil Percobaan : 5.1 Ada banyak atau tak terhitung
Hasil
sebenarnya: tidak terhingga
f.
Kesimpulan : Berdasrkan hasil percobaan dapat
diketahui bahwa
ketika mata fokus terhadap bulatan putih yang disudut
kotak hitam, maka akan tampil titik-titik hitam yang tak terhingga disekitarnya
g.
Daftar Pustaka :Puspitawati, I., Hapsari, I. I.,
& Suryaratri, R. D.
2014.
Psikologi Faal. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.
6.
Percobaan : Indera Penglihatan 2
Nama Percobaan : Lingkaran yang sama atau beda
Nama Subjek Percobaan : Nadila Nita Telyana
Gulo
Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan : Untuk membuktikan
dua buah lingkaran putih
yang dikelilingi bulatan-bulatan
putih yang lebih kecil dan lebih besar
adalah sama atau tidak
b.
Dasar Teori : Menurut Ganong (2008), mata mengubah
energy
dari spektrum yang dapat terlihat menjadi potensial aksi di
saraf optikus. Bayang suatu benda di dalam lingkungan difokuskan di
retina. Berkas cahaya yang mencapai retina akan mencetuskan potensial di dalam
sel kerucut dan batang. Impuls yang timbul di retina dihantarkan ke korteks
selebri, tempat impuls tersebut menimbulkan sensasi.
Menurut Plotnik (dalam buku Basuki, 2008), terdapat 4 macam
ketetapan persepsi yaitu ukuran kecerahan, bentuk dan warna. Salah satunya
adalah persepsi kontansi ukuran (size constancyi), yang mengacu pada
kecenderungan merasakan bahwa ukuran objek tetap sama, bahkan ketika terkesan
yang ada pada retina terus-menerus berkembang atau menyusut. Sebagai misalnya,
mobil yang sedang melaku menjauh, menjadi lebih kecil pada kesan di retina.
Walaupun kesan di retina menjadi lebih kecil, mobil tadi tidak dirasakan
berubah karena adanya keajegan ukuran. Dan selanjutnya ada persepsi kontansi
bentuk (shape constancy) mengacu pada kecenderungan merasakan adanya
kesamaan bentuk, walaupun dilihat dari sudut yang berbeda, bentuk ini
terus-menerus berubah pada kesan di retina.
Menurut Carlson (2003), korteks visual terdiri dari korteks
striate dan dua aliran asosiasi korteks visual. Aliran ventral, yang berakhir
dengan korteks temporal rendah, terlibat dengan persepsi objek. Lesi daerah ini
mengganggu persepsi objek visual. Juga, neuron tunggal dalam korteks temporal
rendah merespon terbaik untuk rangsangan kompleks dan terus melakukannya bahkan
jika objek tersebut akan dipindahkan ke latar belakang yang berbeda, atau
sebagian tersembunyi. Aliran dorsal, yang berakhir dengan posterior parietal
cortex, yang terlibat dengan persepsi gerakan, lokasi, perhatian visual, dan
pengendalian gerakan mata dan tangan. Setidaknya ada dua lusin subregional
yang berbeda dari korteks visual, diatur dalam mode hirarkis. Setiap analisis
karakteristik tertentu informasi visual dan pasess hasil analisis ini ke daerah
lain dalam hirarki.
c. Alat yang digunakan : Kertas bergambar lingkaran putih, yang satu
(sebelah kiri) dikelilingi bulatan-bulatan putih yang
lebih kecil dari bulatan putih utama, sedangkan yang satu lagi (sebelah kanan)
lingkaran putih yang berada ditengah dikelilingi oleh bulatan-bulatan putih
yang lebih besar besar dari lingkaran utama
d.
Jalannya Percobaan : 6.1 Setiap
mahasiswa/i diminta untuk
memperhatikan
kertas bergambar lingkaran putih yang satu dikelilingi bulatan putih lebih
kecil daripada bulatan putih utama, dan satu lagi lingkaran putih yang ditengah
dikelilingi oleh bulatan putih yang lebih besar.
e. Hasil Percobaan : 6.1 Kedua lingkaran putih yang ditengah sama
Hasil sebenarnya: kedua lingkaran sama besar
f.
Kesimpulan : Berdasarkan hasil percobaan,
dapat di simpulkan
dan di ketahui bahwa penipuan penglihatan dapat terjadi
bila sinar yang masuk tidak jatuh pada bagian sentral dari retina. Penipuan
penglihatan ini disebut Fenomena fosfen, dari percobaan ini, dapat disimpulkan
bahwa kedua lingkaran pusat memiliki besar yang sama.
g.
Daftar Pustaka : Ganong, W. F. 2008. Fisiologi
Kedokteran
Jakarta:
EGC.
Basuki,
M. H. 2008. Psikologi Umum. Jakarta:
Universitas
Gunadarma.
Carlson,
N. R. 2003. Physiology of Behavior. New
York: Pearson.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar