Sabtu, 21 Juli 2018

Indra Pendengaran dan Keseimbangan


LAPORAN PRAKTIKUM PSIKOLOGI FAAL
Nama Mahasiswa
NPM
Kelas
:
:
:
Nadila Nita T.G
14517380
1PA20
Tanggal Pemeriksaan
Nama Asisten
Paraf Asisten
:
:
:
2 Mei 2018
Inggit Rosphiana


1.
Percobaan
:
Indra Pendengaran dan Keseimbangan

Nama Percobaan
:
1. Pendengaran (penghantar aerotymponal dan craniotymponal pada pendengaran)
1.1 Percobaan Rine

Nama Subjek Percobaan
:
Nadila Nita Telyana Gulo

Tempat Percobaan
:
Laboratorium Psikologi Faal

a.    Tujuan Percobaan
:
Untuk membuktikan bahwa transmisi melalui udara lebih baik daripada tulang.

b.    Dasar Teori
:
Menurut Ganong (2008), telinga mengubah gelombang suara di lingkungan eksternal menjadi potensial aksi di saraf pendengaran. Gelombang di ubah oleh gendang telinga dan tulang pendengaran menjadi gerakan lempengan kaki stapes. Gerakan ini menimbulkan gelombang di dalam cairan telinga dalam. Efek gelombang pada organ Corti menimbulakan potensial aksi di serabut saraf.
Menurut Puspitawati (1999), bunyi dapat didengar manusia melalui transmisi getaran bunyi. Transmisi getaran bunyi ada dua macam yaitu:
a) Transmisi Hawa (Aerotymponal) yaitu jalannya getaran melalui penghantaran hawa. Jalannya impuls sebagai berikut: sumber suara menggetarkan udara → daun telinga meatus acusticus externus → menggetarkan membrana thympani → osicula auditiva → menggetarkan perilymphe → membran basalis bergetar → organon corti (reseptor pendengaran) bergetar → membran tectoria → menstimulasi ujung rambut neuroepithel → nervus cochlearis → otak (lobus temporalis) → sadar akan bunyi.
b) Transmisi Tulang (Craniotymponal), yaitu jalan getaran melalui penghantar tulang. Jalannya impuls sebagai berikut: getaran sumber suara → menggetarkan tulang kepala → menggetarkan perilyimph pada skala vestibuli → skala tymphani → dan selanjutnya seperti penghantaran melalui udara atau hawa.
Menurut Pinel (2012), gelombang bunyi berjalan turun melalui auditory canal (kanal auditori) dan menyebabkan tympanic membrane (membrane/ selaput timpanik atau eardrum [gendang telinga]) bergetar. Vibrasi inilah yang kemudian ditransfer ke ketiga ossicles (osikel) - tulang-tulang kecil di telinga tengah yakni, malleus (martil), incus (landasan), dan stapes (sanggurdi). Vibrasi sanggurdi memicu vibrasi selaput yang disebut oval window (jendela oval), yang pada gilirannya mentransfer vibrasi itu ke cairan cochlea (koklea atau rumah siput). Kokhlea adalah sebuah tube panjang melingkar-lingkar seperti kumparan dengan selaput internal yang mengalir hingga hampir ke ujungnya. Selaput internal inilah yang merupakan organ reseptor auditori, organ of Corti.

c.     Alat yang Digunakan
:
Garputala

d.    Jalannya Percobaan
:
a. Garputala di pukul terlebih dahulu ke besi supaya bergetar, setelah itu letakkan pada atas kepala praktikan sampai bunyi dari garputala tersebut menghilang. Kemudian diletakan didepan lubang telinga dengan sejajar.
b. Garputala di pukul terlebih dahulu ke besi supaya bergetar, setelah itu letakkan pada atas kepala praktikan sampai bunyi dari garputala tersebut menghilang. Kemudian diletakkan di belakang telinga.

e.     Hasil Percobaan
:
a. Suara garputala yang ditempatkan didepan sejajar dengan telinga lebih terdengar jelas daripada garputala yang di tempatkan di atas kepala
b. Suara garputala yang diatas kepala lebih terdengar jelas daripada garputala yang di belakang telinga
Hasil Sebenarnya:
a. Suara nada garputala yang sudah tidak terdengar ketika ditempatkan di puncak kepala masih tetap terdengar ketika garputala itu ditempatkan didepan lubang telinga
b. Suara nada garputala yang sudah tidak terdengar ketika ditempatkan dibelakang telinga masih tetap terdengar ketika garputala itu ditempatkan didepan lubang telinga.
a) Semakin besar garputala → semakin berat suaranya
b) Garputala dan telinga sejajar → hantaran suara bagus
c) Pada orang tua, elastisitas membran timphany yang kurang bagus, sehingga terkadang indera pendengarannya kurang berfungsi dengan baik
d) Membran tymphany menggetarkan maleus, incus, stapes → sehingga terdengar suara

f.      Kesimpulan
:
Dalam keadaan normal, hantaran suara melalui udara lebih baik daripada hantara suara melalui tulang. Berdasarkan hasil percobaan diatas, suara getaran yang dihasilkan (membran timpani menggetarkan maleus, incus, dan stapes sehingga terdengar suara) garputala masih dapat didengar telinga walaupun getaran yang dihasilkan sudah melemah.

g.    Dafar Pustaka
:
Ganong, W. F. 2008. Fisiologi Kedokteran.             Jakarta: EGC.
Pinel, John P.J. 2009. Biopsikologi.             Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Puspitawati, Ira. 1999. Psikologi Faal. Jakarta:             Universitas Gunadarma.

2.
Percobaan
:
Indra Pendengaran dan Keseimbangan

Nama Percobaan
:
1. Pendengaran (penghantar aerotymponal dan craniotymponal pada pendengaran)
1.2  Tempat Sumber Bunyi

Nama Subjek Percobaan
:
Nadila Nita Telyana Gulo

Tempat Percobaan
:
Laboratorium Psikologi Faal

a.    Tujuan Percobaan
:
Untuk menentukan sumber bunyi

b.    Dasar Teori
:
Menurut Ganong (2008), jalur auditori di korteks mirip dengan jalur visual yaitu di sepanjang jalur tersebut terjadi peningkatan kompleksitas pengolahan informasi pendengaran. Suatu pengamatan yang menarik adalah bahwa meskipun area auditori tampak sama dikedua sisi otak, namun dijumpai spesialisasi hemisferik yang mencolok. Sebagai contoh, area 22 Brodmam berhubungan dengan pengolahan sinyal suara yang berkaitan dengan proses bicara. Selama proses pengolahan bahasa, area ini jauh lebih aktif di sisi kiri daripada kanan. Area 22 di sisi kanan lebih berhubungan dengan melodi, nada, dan intesitas suara. Jalur auditori juga sangat lentur, dan seperti jalur visual dan somastetik, jalur tersebut mengalami perubahan akibat pengalaman. Contoh plastisitas audioti pada manusia yaitu pengamatan bahwa pada orang tuli sebelum keterampilan berbahasa berkembang sempurna, melihat sinyal bahasa akan mengaktifkan area-area asosiasi auditori. Sebaliknya, orang yang menjadi buta pada awal kehidupannya terbukti dapat menentukan lokalisasi suara lebih baik dibandingkann dengan orang berpenglihatan normal.
Menurut Kimbal (1983), didalam ruangan koklea bagian dalam, atau tengah terletak organ Corti. Organ Corti berisi ribuan sel “rambut” peka yang merupakan reseptor vibrasi sebenarnya. Vibrasi dalam cairan koklea menimbulkan vibrasi dalam membran basilar. Hal ini menggerakkan sel-sel rambut peka yang timbul dalam sel-sel ini kemudian mengalami impuls saraf yang menjalar kembali sepanjang saraf auditori ke otak. Telinga dapat mendeteksi bunyi dalam kisaran intensitas yang luas. Bunyi paling keras yang dapat kita dengar nyaman itu lebih dari satu triliun kali bunyi paling lembut yang dapat kita deteksi. Bunyi yang paling halus sedemikian lembut sehingga jika telinga lebih peka lagi mungkin dapat mendeteksi benturan molekular secara acak di dalam telinga. Cara organ Corti membedakan berbagai tingkatan nada dapat dipahami kini. Sekilas, agaknya sesuailah bagi sel-sel rambut itu untuk mengirimkan impuls-impuls kembali ke otak dengan frekuensi yang sama dengan bunyi. Hal semacam ini sebenarnya dapat terjadi pada frekuensi yang sangat rendah. Hal ini tidak dapat terjadi pada frekuensi yang lebih besar dari sekitar 1000 Hertz, karena neuron sensori tidak dapat menghantarkan impuls lebih cepat daripada itu. Sebenarnya, sebelum batas ini tercapai, membran basilar dan sel-sel rambut mulai merespons secara selektif terhadap frekuensi bunyi. Frekuensi yang rendah menstimulasi daerah organ Corti yang palng dekat dengan ujungnya. Frekuensi yang tinggi dideteksi di dekat pangkalnya. Frekuensi tingkat menengah dideteksi dalam cara yang teratur dan progresif dari satu ujung organ Corti ke ujung yang lain.
Menurut Puspitawati (1999), kecepatan hantaran gelombang bunyi oleh udara adalah 331,33 m/detik. Suatu sumber suara yang berasal dari bidang medium pada tubuh kita, dari muka, atas, atau belakang manusia itu akan mencapai telinga pada waktu yang sama, sehingga sumber itu akan sulit ditemukan letaknya. Bila sumber bunyi ada di sebelah kiri, bunyi yang muncul akan mencapai telinga sebelah kiri dulu sehingga timbul kesan bahwa sumber bunyi terletak di sebelah kiri. Tetapi bila bunyi muncul terus menerus pada waktu yang sama, maka sumber bunyi akan sulit diketahui asalnya. Oleh karena itu apabila membunyikan sesuatu dengan maksud memberitahu sumber bunyi maka haruslah tidak dilakukan terus-menerus tetapi secara terputus-putus. Beberapa neuron di medial superior olives mampu membedakan datangnya sumber suara pada telinga kiri dan kanan. Sebaliknya, beberapa neuron di lateral superior olives mampu membedakan amplitudo bunyi antara kedua telinga.

c.     Alat yang Digunakan
:
Pipa karet

d.    Jalannya Percobaan
:
Ambil sebuah pipa karet, kedua ujungnya di masukkan ke masing-masing lubang telinga praktikan. Kemudian tutor menekan pipa karet tersebut pada bagian kanan, kiri, dan tengah.

e.     Hasil Percobaan
:
Dapat menebak 3 suara dari pipa karet yang dibunyikan oleh tutor.
Hasil Sebenarnya:
a.       Kalau masih bisa membedakan kanan kiri → normal
b.      Membedakan yang bagian tengah → cukup sulit

f.      Kesimpulan
:
Seseorang yang memiliki pendengaran yang baik akan bisa menentukan arah sumber bunyi serta lokasi sumber suara. Neuron dengan selektif dapat membedakan arrival times dari suara pada telinga kanan atau kiri.
Pada manusia, nada rendah terletak dibagian anterolateral dan nada tinggi di posteromedial di korteks auditori. Jadi manusia dapat menentukan lokasi sumber bunyi tergantung pada otak, intensitas suara dan frekuensi suara.

g.    Dafar Pustaka
:
Ganong, W. F. 2008. Fisiologi Kedokteran.             Jakarta: EGC.
Kimbal, J. W. (1983). Biologi. Jakarta: Erlangga.
Puspitawati, Ira. 1999. Psikologi Faal.
Jakarta: Universitas Gunadarma.















3.
Percobaan
:
Indra Pendengaran dan Keseimbangan

Nama Percobaan
:
1. Pendengaran (penghantar aerotymponal dan craniotymponal pada pendengaran)
1.3  Pemeriksaan ketajaman pendengaran

Nama Subjek Percobaan
:
Nadila Nita Telyana Gulo

Tempat Percobaan
:
Laboratorium Psikologi Faal

a.    Tujuan Percobaan
:
Untuk memeriksa ketajaman pendengaran

b.    Dasar Teori
:
Menurut Ganong (2008), impuls naik dari nucleus koklear dorsalis dan ventralis melalui jalur rumit yang menyilang. Pada hewan percobaan, terdapat pola lokalisasi nada yang teratur di korteks auditory primer, seolah-olah koklea dibuka diatasnya. Pada manusia, nada rendah terletak di bagian anterolateral dan nada tinggi di posteromedial di korteks auditory. Pola ini biasanya berkembang pada awal masa kehidupan, dan perkembangannya melambat jika hewan terpanjang dengan suara bising tingkat rendah secara terus-menerus. Jika kebisingan tersebut dihentikan, perkembangan akan pulih pada kecepatan normal.
Menurut Pinel (2012), prinsip utama pengodean kokhlear adalah frekuensi yang berbeda menghasilkan stimulasi maksimal terhadap sel-sel rambut di titik-titik yang berbeda di sepanjang selaput basiliar – frekuensi yang lebih tinggi menghasilkan aktivasi lebih besar yang lebih dekat ke jendela-jendela dan frekuensi yang lebih rendah menghasilkan aktivasi yang lebih besar pada ujung selaput basiliar. Jadi, banyaknya frekuensi komponen yang menyusun setiap bunyi kompleks akan mengaktifkan sel-sel rambut di banyak titik yang berbeda di sepanjang selaput basiliar, dan banyaknya sinyal yang diciptakan oleh sebuah bunyi tunggal yang kompleks dibawa keluar dari telingan oleh banyak neuron auditori yang berbeda. Organisasi sistem auditori pada pokoknya bersifat tonotopik.
Menurut Puspitawati (1999), pada awalnya, auditory cortex dibagi-bagi menjadi bagian-bagian tertentu sesuai dengan kepekaannya. Bagian anterior dari primary auditory cortex paling peka terhadap nada-nada berfrekuensi tinggi, sedangkan bagian posteriornya cenderung peka terhadap frekuensi-frekuensi yang rendah.

c.     Alat yang Digunakan
:
Stopwatch

d.    Jalannya Percobaan
:
Sebuah stopwatch di tempatkan di depan salah satu lubang telinga praktikan, sementara lubang telinga yang satu lagi ditutup. Kemudian stopwatch ditekan, lalu di jauhkan dari lubang telinga sampai praktikan tidak mendengar lagi dan berkata stop. Ukur jarak stopwatch dari lubang telinga. Lakukan hal yang sama pada telinga yang sebelahnya.

e.     Hasil Percobaan
:
Telinga kiri = 124cm
Telinga kanan = 85cm
Telinga kiri lebih baik dibanding telinga kanan.
Hasil Sebenarnya:
1.      Sangat dipengaruhi oleh kebisingan
2.      Rata-rataa diatas 50cm
3.      Biasanya telinga kanan lebih jauh dari telinga kiri. (pengaruhnya pada otak kanan dan otak kiri)

f.      Kesimpulan
:
Fungsi utama indera pendengaran manusia yaitu untuk mendeteksi suara, menentukan lokasi sumber suara dan mengidentifikasikan pola suara tersebut. Ketajaman indera pendengaran kanan dan kiri itu berbeda dan sangat dipengaruhi oleh kebisingan dan pada otak kanan dan otak kiri. Selain itu juga ketajaman pendengaran kanan dan kiri tidak selalu sama, biasanya telinga kanan jauh lebih baik dibanding dengan telinga kiri.

g.    Dafar Pustaka
:
Ganong, W. F. 2008. Fisiologi Kedokteran.             Jakarta: EGC.
Pinel, John P.J. 2009. Biopsikologi.             Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Puspitawati, Ira. 1999. Psikologi Faal. Jakarta:              Universitas Gunadarma.


1.
Percobaan
:
Indra Pendengaran dan Keseimbangan

Nama Percobaan
:
2. Keseimbangan
2.1 Cara kerja kedudukan kepala dan mata normal

Nama Subjek Percobaan
:
Nadila Nita Telyana Gulo

Tempat Percobaan
:
Laboratorium Psikologi Faal

a.    Tujuan Percobaan
:
Untuk memahami bahwa cairan endolymph dan perilymph yang terdapat pada telinga bila bergejolak (goyang) akan menyebabkan keseimbangan seseorang teranggu; memahami bahwa keseimbangan yang terganggu mudah dikembalikan seperti sediakala; melihat adanya nistagmus

b.    Dasar Teori
:
Menurut Ganong (2008), nukleus vestibularis terutama berperan mempertahankan posisi kepala dalam ruang. Jalur yang turun dari nukleus-nukleus ini memperantalkan penyesuaian kepala terhadap leher dan kepala terhadap badan.
Menurut Pearce (1999), pada saluran membranosa yang mengandung ujung-ujung akhir saraf pendengaran. Cairan dalam labirin membranosa disebut endolimph, sementara cairan diluar labirin membranosa dan dalam labirin tulang di sebut perilimph. Ada dua tingkap dalam ruang melingkar ini yaitu, pertama fenestra vestibuli yang disebut fenestra ovalis merupakan lantaran bentuknya yang bulat panjang dan ditutup oleh tulang stapes dan kedua fenstra kokhlea yang disebut juga fenestra rotunda yaitu lantaran bentuknya bundar dan situtup oleh sebuah membran. Kedua-duanya menghadap ke telinga dalam. Adanya tingkap-tingkap dalam labirin tulang bertujuan agar getaran dapat dialihkan dari rongga telinga tengah, guna dilangsungkan dalam perilymph (perilymph adalah cairan yang praktis tidak dapat dipadatkan). Getaran dalam perilymph dialihkan menuju endolimph, dan dengan demikian merangsang ujung-ujung akhir saraf pendengaran.
Menurut Puspitawati (2014), vestibular system berfungsi membawa informasi tentang arah dan intensitas gerakan kepala, membantu mempertahankan keseimbangan, dan menjaga kepala tetap ke depan dalam penyesuaian gerakan mata dengan gerakan kepala.

c.     Alat yang Digunakan
:
-

d.    Jalannya Percobaan
:
Praktikan berjalan digaris lurus dengan sikap tubuh biasa dan berjalan di garis lurus dengan muka di buang ke kanan/kiri

e.     Hasil Percobaan
:
Saat sikap tubuh biasa dan saat muka di buang ke kanan/kiri dapat berjalan lurus digaris.
Hasil Sebenarnya:
1.      Dalam sikap tubuh biasa, praktikan dapat berjalan lurus atau tidak mengalami kesulitan
2.      Dalam sikap tubuh dengan muka dibuang ke kanan/kiri praktikan tidak dapat berjalan lurus → biasanya jalan ke kiri/kanan

f.      Kesimpulan
:
Posisi kepala dan rotasi akan memberikan rangsangan terhadap kanalis semisirkularis. Mata dan posisi kepala mempengaruhi keseimbangan seseorang. Aliran endolimph akan mempengaruhi kesan terhadap arah rotasi berjalan yang terjadi. Kanalis semisirkularis mendeteksi akselerasi atau deselerasi angular atau rotasional kepala.

g.    Dafar Pustaka
:
Ganong, W. F. 2008. Fisiologi Kedokteran.             Jakarta: EGC.
Pearce, E. (1999). Anatomi dan Fisiologi untuk             Paramedis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Puspitawati, I., Hapsari, I. I., &
Suryaratri, R. D. (2014). Psikologi
 Faal. Bandung: PT. Remaja
 Rosdakarya Offset.









2.
Percobaan
:
Indra Pendengaran dan Keseimbangan

Nama Percobaan
:
2.     Keseimbangan
2.2 Cara kerja kanalis semisirkunalis horizontalis

Nama Subjek Percobaan
:
Nadila Nita Telyana Gulo

Tempat Percobaan
:
Laboratorium Psikologi Faal

a.    Tujuan Percobaan
:
Untuk memahami bahwa cairan endolymph dan perilymph yang terdapat pada telinga bila bergejolak (goyang) akan menyebabkan keseimbangan seseorang teranggu; memahami bahwa keseimbangan yang terganggu mudah dikembalikan seperti sediakala; melihat adanya nistagmus

b.    Dasar Teori
:
Menurut Ganong (2008), kanalis semikuralis dapat dirangsang dengan meneteskan air yang lebih panas atau lebih dingin daripada suhu tubuh ke dalam meatus auditorius eksternus. Perbedaan suhu akan menimbulkan arus konveksi di endolimph, yang kemudian menggerakkan kupula. Teknik rangsangan kalori ini, yang kadang-kadang digunakan untuk tujuan diagnostik, menyebabkan nistagmus, vertigo, dan mual. Untuk menghindari gejala ini sewaktu melakukan irigasi salurna telinga dalam pengobatan infeksi telinga, harus dipastikan bahwa suhu cairan yang digunakan sama dengan suhu tubuh.
Menurut Kimbal (1983), gerak tubuh manusia dideteksi pada ketiga saluran lingkaran di bagian atas masing-masing telinga dalam. Ketiga saluran tersebut merupakan tiga tabung berisi cairan, masing-masing mengarah ke salah satu dari ketiga bidang ruang. Pada satu ujung setiap saluran ada ruangan kecil yang berisi sel-sel rambut sensori. Setiap kali kepala digerakkan, saluran setengah lingkaran itu pun bergerak. Akan tetapi, cairan didalamnya itu gerakannya lambat, dan akibatnya ada gerak relatif di antara dinding saluran dan cairan. Gerak ini menstimulasi sel-sel rambut untuk mengirimkan kembali impuls ke otak. Pemeliharaan keseimbangan yang sesuai selama kegiatan atletik secara praktis tidak mungkin tanpa mekanisme ini. Bila sel-sel rambut distimulasi dalam cara-cara yang tidak dikenal, seperti misalnya dalam kapal laut atau kapal terbang selama cuaca buruk, dapat terjadi mabuk.
Menurut Pearce (1999), Nervus vestibularis yang tersebar hingga kanalis semisirkularis, mengantarkan impuls-impuls menuju otak. Impuls-impuls itu dibangkitkan dalam kanal-kanal tadi, karena adanya perubahan kedudukan cairan dalam kanal atau saluran-saluran itu. Hal ini mempunyai hubungan erat dengan kesadaran kedudukan kepala terhadap badan. Apabila seseorang sekoyong-koyong didorong ke arah satu lain (berlawanan dengan arah badan yang didorong), guna mempertahankan keseimbangan, berat badan diatur, posisi berdiri dipertahankan, dan jatuhnya badan dapat dihindarkan. Perbahan kedudukan cairan dalam saluran semisirkuler inilah yang merangsang impuls, yang segera di jawab badan berupa gerak refleks, guna memindahkan berat badan serta mempertahankan keseimbangan.

c.     Alat yang Digunakan
:
-

d.    Jalannya Percobaan
:
Praktikan berposisi badan lurus tegak dengan mata tertutup dan kepala menunduk lalu tutor memutar praktikan sebanyak tiga kali dan selanjutnya praktikan berjalan dengan keadaan normal.

e.     Hasil Percobaan
:
Ketika di putar selama tiga kali praktikan merasa pusing sejenak namun setelah itu praktikan bisa berjalan dengan lurus
Hasil Sebenarnya:
Percobaan 1 => Biasanya mengalami kesulitan untuk berjalan lurus → Normal, karena cairan endolimph perilimph bergejolak.
Percobaan 2 => Biasanya tidak terlalu mengalami kesulitan untuk berjalan lurus seperti yang percobaan 1 → karena cairan endolimph dan perilimph  normal kembali.

f.      Kesimpulan
:
Percepatan rotasi pada salah satu bidang kanalis semisirkularis tertentu akan merangsang kristanya. Endolimph, karena kelembapannya, akan bergeser ke arah yang berlawanan terhadap arah rotasi. Apabila rotasi dihentikan, perlambatan akan menyebabkan pergeseran endolimph searah dengan rotasi. Pola rangsangan yang mencapai otak beragam sesuai dengan arah serta bidang rotasi

g.    Dafar Pustaka
:
Ganong, W. F. 2008. Fisiologi Kedokteran.             Jakarta: EGC.
Kimbal, J. W. (1983). Biologi. Jakarta: Erlangga.
Pearce, E. (1999). Anatomi dan Fisiologi
 untuk Paramedis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.













3.
Percobaan
:
Indra Pendengaran dan Keseimbangan

Nama Percobaan
:
2. Keseimbangan
2.3 Cara Kerja Nistagmus

Nama Subjek Percobaan
:
Nadila Nita Telyana Gulo

Tempat Percobaan
:
Laboratorium Psikologi Faal

a.    Tujuan Percobaan
:
Untuk memahami bahwa cairan endolymph dan perilymph yang terdapat pada telinga bila bergejolak (goyang) akan menyebabkan keseimbangan seseorang teranggu; memahami bahwa keseimbangan yang terganggu mudah dikembalikan seperti sediakala; melihat adanya nistagmus

b.    Dasar Teori
:
Menurut Ganong (2008), gerakan menyentak khas pada mata yang tempak pada saat awal dan akhir periode rotasi disebut nistagmus. Gerakan ini sebenarnya merupakan refleks yang mempertahankan fiksasi penglihatan di titik-titik yang diam sementara tubuh berputar, walaupun gerakan ini tidak dicetuskan oleh impuls penglihatan dan terjadi pada orang buta. Sewaktu rotasi di mulai, mata bergerak melambat dalam arah berlawanan dengan arah rotasi, untuk mempertahankan fiksasi penglihatan. Bila batas gerakan ini tercapai, mata dengan cepat akan berputar kembali ke titik fiksasi baru lalu kembali bergerak lambat ke arah lain. Komponen lambat dicetuskan oleh impuls dari lebirin, sedangkan komponen cepat dicetuskan oleh pusat di batang otak. Nistagmus sering bersifat horizontal (yaitu mata bergerak ke dalam bidang horizontal), tetapi nistagmus juga dapat bersifat vertikal, bila kepala direbahakan ke sisi selama rotasi, atau berputar, bila kepala menengok ke bawah. Berdasarkan perjanjian, arah gerakan mata dalam nistagmus dinyatakan oleh arah komponen cepat. Arah komponen cepat selama rotasi sama dengan arah rotasi, tetapi nistagmus pascarotasi yang terjadi akibat pergeseran kupula sewaktu rotasi dihentikan memiliki arah berlawanan. Secara klinis, nistagmus dijumpai saat istirahat pada pasien dengan lesi di batang otak.
Menurut Puspitawati (2014), telinga kita tidak hanya berfungsi sebagai indera pendengaran, tetapi juga berperan dalam mempertahankan keseimbangan (sistem vestibular). Saat kita dalam mempertahankan kita berputar-putar, cairan kokhlea juga berputar-putar dan mengirimkan sinyal ke otak. Lalu jika berhenti tiba-tiba, maka akan merasa pusing dan terjatuh. Hal ini karena cairan kokhlea masih belum berhenti berputar walaupun tubuh telah diam. Sehingga sensor di dalam telinga masih mengirimkan ke otak seakan-akan masih berputar. Hal inilah yang membuat kita pusing dan merasa seperti akan terjatuh.

c.     Alat yang Digunakan
:
-

d.    Jalannya Percobaan
:
Praktikan membungkuk dengan di putar sebanyak tiga kali oleh tutor, setalah itu praktikan di minta berjalan seperti biasa.

e.     Hasil Percobaan
:
Praktikan merasakan pusing setelah di putar, lalu praktikan berjalan dengan keadaan tegap dan praktikan merasakan pusing yang sangat parah, dan kita berjalan praktikan  merasa apa yang di lihatnya berputar.
Hasil Sebenarnya:
1.      Biasanya pandangan menjadi kabur atau berkunang-kunang
2.      Apa yang dilihat menjadi berputar-putar

f.      Kesimpulan
:
Nistagmus adalah suatu gejala yang timbul akibat telinga terganggu sehingga pandangan menjadi berkunang-kunang dan kepala menjadi pusing. Alat keseimbangan di dalam utrikulus dari sekelompok sel saraf yang ujungnya berupa rambut bebas melekat pada otolith. Posisi kepala mengakibatkan desakan otolith pada rambut yang menimbulkan impuls yang akan dikirim ke otak. Pada cairan kokhlea yaitu endolimph dan perilimph tidak seimbang.

g.    Dafar Pustaka

:
Ganong, W. F. 2008. Fisiologi Kedokteran.             Jakarta: EGC.
Puspitawati, I., Hapsari, I. I., & Suryaratri, R.             D. (2014). Psikologi Faal. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.

h. Note
:
1.      Telinga dibagi menjadi 3 bagian, yaitu: bagian luar, bagian tengah, bagian dalam
2.      Bagian luar: Daun telinga, cuping, liang, membran thympani
3.      Bagian tengah: M.I.S (Maleus, Incus, Stapes)/ MALAS (Martil, Landasan, Sanggurdi)
4.      Bagian dalam: Rumah siput (cochlea) → ada 2 macam cairang, yaitu endolimph dan perilimph seimbang ketika berjalan.
5.      Pada telinga bagian dalam terdiri dari 2 ruangan yang berhubungan satu dengan yang lainnya, ruangan tersebut tidak teratur dan disebut Labyrinth
6.      Labyirinth ada 2, yaitu:
a.       Labyrinthus Ossesus (dinding tulang). Terdiri dari: serambi (vestibulum), saluran gelung (canalis semi sircularis), dan rumah siput (cochlea).
b.      Labyrinthus Membranicus (membrane) terdiri dari: sacula, otricula, 3 buah saluran gelung, dan rumah siput yang merupakan bagian yang berhubungan dengan sacula dona tricula.
c.       Saraf karnial → audiforius




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Deindividuasi

Deindividuasi merupakan tahap psikilogis yang ditandai oleh hilangnya self awerness dan berkurangnya ketakutan individu karena berada dal...