LAPORAN PRAKTIKUM PSIKOLOGI FAAL
|
Nama Mahasiswa
NPM
Kelas
|
:
:
:
|
Nadila Nita
T.G
14517380
1PA20
|
Tanggal Pemeriksaan
Nama Asisten
Paraf Asisten
|
:
:
:
|
2 Mei 2018
Inggit
Rosphiana
|
|
1.
|
Percobaan
|
:
|
Indra
Pendengaran dan Keseimbangan
|
|
|
Nama Percobaan
|
:
|
1. Pendengaran
(penghantar aerotymponal dan craniotymponal pada pendengaran)
1.1 Percobaan
Rine
|
|
|
Nama Subjek Percobaan
|
:
|
Nadila Nita
Telyana Gulo
|
|
|
Tempat Percobaan
|
:
|
Laboratorium
Psikologi Faal
|
|
|
a. Tujuan
Percobaan
|
:
|
Untuk membuktikan
bahwa transmisi melalui udara lebih baik daripada tulang.
|
|
|
b. Dasar
Teori
|
:
|
Menurut Ganong
(2008), telinga mengubah gelombang suara di lingkungan eksternal menjadi
potensial aksi di saraf pendengaran. Gelombang di ubah oleh gendang telinga
dan tulang pendengaran menjadi gerakan lempengan kaki stapes. Gerakan ini
menimbulkan gelombang di dalam cairan telinga dalam. Efek gelombang pada
organ Corti menimbulakan potensial aksi di serabut saraf.
Menurut
Puspitawati (1999), bunyi dapat didengar
manusia melalui transmisi getaran bunyi. Transmisi getaran bunyi ada dua
macam yaitu:
a) Transmisi
Hawa (Aerotymponal) yaitu jalannya getaran
melalui penghantaran hawa. Jalannya impuls sebagai berikut: sumber suara
menggetarkan udara → daun
telinga meatus acusticus externus → menggetarkan membrana thympani → osicula auditiva → menggetarkan perilymphe → membran basalis
bergetar →
organon corti (reseptor
pendengaran)
bergetar → membran
tectoria → menstimulasi ujung rambut neuroepithel → nervus cochlearis →
otak (lobus
temporalis) →
sadar akan bunyi.
b) Transmisi
Tulang (Craniotymponal), yaitu jalan getaran
melalui penghantar tulang.
Jalannya impuls sebagai berikut:
getaran sumber suara → menggetarkan
tulang kepala → menggetarkan
perilyimph pada skala vestibuli → skala tymphani → dan selanjutnya seperti
penghantaran
melalui udara atau hawa.
Menurut Pinel
(2012), gelombang bunyi
berjalan turun melalui auditory canal
(kanal auditori) dan menyebabkan tympanic
membrane (membrane/ selaput
timpanik atau eardrum [gendang telinga]) bergetar. Vibrasi inilah yang
kemudian ditransfer ke ketiga ossicles
(osikel) - tulang-tulang kecil di telinga tengah yakni, malleus (martil), incus
(landasan), dan stapes (sanggurdi). Vibrasi sanggurdi
memicu vibrasi selaput yang disebut oval window (jendela oval), yang pada
gilirannya mentransfer vibrasi itu ke cairan cochlea (koklea atau rumah siput). Kokhlea adalah sebuah tube
panjang melingkar-lingkar seperti kumparan dengan selaput internal yang
mengalir hingga hampir ke ujungnya. Selaput internal inilah yang merupakan
organ reseptor auditori, organ of
Corti.
|
|
|
c. Alat
yang Digunakan
|
:
|
Garputala
|
|
|
d. Jalannya
Percobaan
|
:
|
a. Garputala
di pukul terlebih dahulu ke besi supaya bergetar, setelah itu letakkan pada atas
kepala praktikan sampai bunyi dari garputala tersebut menghilang. Kemudian
diletakan didepan lubang telinga dengan sejajar.
b. Garputala
di pukul terlebih dahulu ke besi supaya bergetar, setelah itu letakkan pada
atas kepala praktikan sampai bunyi dari garputala tersebut menghilang.
Kemudian diletakkan di belakang telinga.
|
|
|
e. Hasil
Percobaan
|
:
|
a. Suara garputala
yang ditempatkan didepan sejajar dengan telinga lebih terdengar jelas
daripada garputala yang di tempatkan di atas kepala
b. Suara
garputala yang diatas kepala lebih terdengar jelas daripada garputala yang di
belakang telinga
Hasil
Sebenarnya:
a. Suara nada
garputala yang sudah tidak terdengar ketika ditempatkan di puncak kepala
masih tetap terdengar ketika garputala itu ditempatkan didepan lubang telinga
b. Suara nada
garputala yang sudah tidak terdengar ketika ditempatkan dibelakang telinga
masih tetap terdengar ketika garputala itu ditempatkan didepan lubang telinga.
a) Semakin
besar garputala → semakin berat suaranya
b) Garputala
dan telinga sejajar → hantaran suara bagus
c) Pada orang
tua, elastisitas membran timphany
yang kurang bagus, sehingga terkadang indera pendengarannya kurang berfungsi
dengan baik
d) Membran tymphany menggetarkan maleus, incus,
stapes → sehingga terdengar suara
|
|
|
f. Kesimpulan
|
:
|
Dalam keadaan
normal, hantaran suara melalui udara lebih baik daripada hantara suara
melalui tulang. Berdasarkan hasil percobaan diatas, suara getaran yang
dihasilkan (membran
timpani menggetarkan maleus, incus, dan stapes sehingga
terdengar suara) garputala
masih dapat didengar telinga walaupun getaran yang dihasilkan sudah melemah.
|
|
|
g. Dafar
Pustaka
|
:
|
Ganong, W.
F. 2008. Fisiologi Kedokteran. Jakarta:
EGC.
Pinel, John P.J. 2009. Biopsikologi.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Puspitawati, Ira. 1999. Psikologi Faal. Jakarta: Universitas Gunadarma.
|
|
2.
|
Percobaan
|
:
|
Indra
Pendengaran dan Keseimbangan
|
|
|
Nama Percobaan
|
:
|
1. Pendengaran
(penghantar aerotymponal dan craniotymponal pada pendengaran)
1.2 Tempat Sumber Bunyi
|
|
|
Nama Subjek Percobaan
|
:
|
Nadila Nita
Telyana Gulo
|
|
|
Tempat Percobaan
|
:
|
Laboratorium
Psikologi Faal
|
|
|
a. Tujuan
Percobaan
|
:
|
Untuk
menentukan sumber bunyi
|
|
|
b. Dasar
Teori
|
:
|
Menurut
Ganong (2008), jalur auditori di korteks mirip dengan jalur visual yaitu di
sepanjang jalur tersebut terjadi peningkatan kompleksitas pengolahan
informasi pendengaran. Suatu pengamatan yang menarik adalah bahwa meskipun
area auditori tampak sama dikedua sisi otak, namun dijumpai spesialisasi
hemisferik yang mencolok. Sebagai contoh, area 22 Brodmam berhubungan dengan
pengolahan sinyal suara yang berkaitan dengan proses bicara. Selama proses
pengolahan bahasa, area ini jauh lebih aktif di sisi kiri daripada kanan.
Area 22 di sisi kanan lebih berhubungan dengan melodi, nada, dan intesitas
suara. Jalur auditori juga sangat lentur, dan seperti jalur visual dan
somastetik, jalur tersebut mengalami perubahan akibat pengalaman. Contoh
plastisitas audioti pada manusia yaitu pengamatan bahwa pada orang tuli
sebelum keterampilan berbahasa berkembang sempurna, melihat sinyal bahasa
akan mengaktifkan area-area asosiasi auditori. Sebaliknya, orang yang menjadi
buta pada awal kehidupannya terbukti dapat menentukan lokalisasi suara lebih baik dibandingkann dengan orang berpenglihatan normal.
Menurut Kimbal (1983), didalam
ruangan koklea bagian dalam, atau tengah terletak organ Corti. Organ Corti
berisi ribuan sel “rambut” peka yang merupakan reseptor vibrasi sebenarnya.
Vibrasi dalam cairan koklea menimbulkan vibrasi dalam membran basilar. Hal
ini menggerakkan sel-sel rambut peka yang timbul dalam sel-sel ini kemudian
mengalami impuls saraf yang menjalar kembali sepanjang saraf auditori ke otak.
Telinga dapat mendeteksi bunyi dalam kisaran intensitas yang luas. Bunyi
paling keras yang dapat kita dengar nyaman itu lebih dari satu triliun kali
bunyi paling lembut yang dapat kita deteksi. Bunyi yang paling halus
sedemikian lembut sehingga jika telinga lebih peka lagi mungkin dapat mendeteksi
benturan molekular secara acak di dalam telinga. Cara organ Corti membedakan berbagai tingkatan nada dapat dipahami
kini. Sekilas, agaknya sesuailah bagi sel-sel rambut itu untuk mengirimkan
impuls-impuls kembali ke otak dengan frekuensi yang sama dengan bunyi. Hal
semacam ini sebenarnya dapat terjadi pada frekuensi yang sangat rendah. Hal
ini tidak dapat terjadi pada frekuensi yang lebih besar dari sekitar 1000
Hertz, karena neuron sensori tidak dapat menghantarkan impuls lebih cepat
daripada itu. Sebenarnya, sebelum batas ini tercapai,
membran basilar dan sel-sel rambut mulai merespons secara selektif terhadap frekuensi bunyi. Frekuensi yang rendah
menstimulasi daerah organ Corti yang palng dekat dengan ujungnya. Frekuensi
yang tinggi dideteksi di dekat pangkalnya. Frekuensi tingkat menengah
dideteksi dalam cara yang teratur dan progresif dari satu ujung organ Corti
ke ujung yang lain.
Menurut Puspitawati (1999), kecepatan hantaran gelombang bunyi
oleh udara adalah 331,33 m/detik. Suatu sumber suara yang berasal dari bidang
medium pada tubuh kita, dari muka, atas, atau belakang manusia itu akan
mencapai telinga pada waktu yang sama, sehingga sumber itu akan sulit
ditemukan letaknya. Bila sumber bunyi ada di sebelah kiri, bunyi yang muncul
akan mencapai telinga sebelah kiri dulu sehingga timbul kesan bahwa sumber
bunyi terletak di sebelah kiri. Tetapi bila bunyi muncul terus menerus pada
waktu yang sama, maka sumber bunyi akan sulit diketahui asalnya. Oleh karena
itu apabila membunyikan sesuatu dengan maksud memberitahu sumber bunyi maka
haruslah tidak dilakukan terus-menerus tetapi secara terputus-putus. Beberapa
neuron di medial superior olives mampu membedakan datangnya sumber suara pada
telinga kiri dan kanan. Sebaliknya, beberapa neuron di lateral superior
olives mampu membedakan amplitudo bunyi antara kedua telinga.
|
|
|
c. Alat
yang Digunakan
|
:
|
Pipa karet
|
|
|
d. Jalannya
Percobaan
|
:
|
Ambil sebuah
pipa karet, kedua ujungnya di masukkan ke masing-masing lubang telinga
praktikan. Kemudian tutor menekan pipa karet tersebut pada bagian kanan,
kiri, dan tengah.
|
|
|
e. Hasil
Percobaan
|
:
|
Dapat menebak
3 suara dari pipa karet yang dibunyikan oleh tutor.
Hasil
Sebenarnya:
a.
Kalau
masih bisa membedakan kanan kiri → normal
b.
Membedakan
yang bagian tengah → cukup sulit
|
|
|
f. Kesimpulan
|
:
|
Seseorang yang
memiliki pendengaran yang baik akan bisa menentukan arah sumber bunyi serta lokasi sumber suara. Neuron dengan
selektif dapat membedakan arrival times dari suara pada
telinga kanan atau kiri.
Pada manusia, nada rendah terletak dibagian anterolateral
dan nada tinggi di posteromedial di korteks auditori. Jadi manusia dapat
menentukan lokasi sumber bunyi tergantung pada otak, intensitas suara dan
frekuensi suara.
|
|
|
g. Dafar
Pustaka
|
:
|
Ganong, W.
F. 2008. Fisiologi Kedokteran. Jakarta:
EGC.
Kimbal, J. W. (1983). Biologi.
Jakarta: Erlangga.
Puspitawati, Ira. 1999. Psikologi Faal.
Jakarta: Universitas Gunadarma.
|
|
3.
|
Percobaan
|
:
|
Indra
Pendengaran dan Keseimbangan
|
|
|
Nama Percobaan
|
:
|
1. Pendengaran
(penghantar aerotymponal dan craniotymponal pada pendengaran)
1.3 Pemeriksaan ketajaman pendengaran
|
|
|
Nama Subjek Percobaan
|
:
|
Nadila Nita
Telyana Gulo
|
|
|
Tempat Percobaan
|
:
|
Laboratorium
Psikologi Faal
|
|
|
a. Tujuan
Percobaan
|
:
|
Untuk
memeriksa ketajaman pendengaran
|
|
|
b. Dasar
Teori
|
:
|
Menurut
Ganong (2008), impuls naik dari nucleus koklear dorsalis dan ventralis melalui
jalur rumit yang menyilang. Pada hewan percobaan, terdapat pola lokalisasi
nada yang teratur di korteks auditory primer, seolah-olah
koklea dibuka diatasnya. Pada manusia, nada rendah terletak di bagian
anterolateral dan nada tinggi di posteromedial di korteks auditory.
Pola ini biasanya berkembang pada awal
masa kehidupan, dan perkembangannya melambat jika hewan terpanjang dengan
suara bising tingkat rendah secara terus-menerus. Jika kebisingan tersebut
dihentikan, perkembangan akan pulih pada kecepatan normal.
Menurut Pinel (2012), prinsip utama pengodean kokhlear adalah frekuensi
yang berbeda menghasilkan stimulasi maksimal terhadap sel-sel rambut di
titik-titik yang berbeda di sepanjang selaput basiliar – frekuensi yang lebih tinggi menghasilkan aktivasi lebih besar
yang lebih dekat ke jendela-jendela dan frekuensi yang lebih rendah
menghasilkan aktivasi yang lebih besar pada ujung selaput basiliar. Jadi, banyaknya frekuensi komponen yang menyusun
setiap bunyi kompleks akan mengaktifkan sel-sel rambut di banyak titik yang
berbeda di sepanjang selaput basiliar, dan banyaknya sinyal yang diciptakan oleh sebuah bunyi tunggal
yang kompleks dibawa keluar dari telingan oleh banyak neuron auditori yang
berbeda. Organisasi sistem auditori pada pokoknya bersifat tonotopik.
Menurut Puspitawati (1999), pada awalnya, auditory cortex dibagi-bagi menjadi bagian-bagian tertentu sesuai
dengan kepekaannya. Bagian anterior dari primary
auditory cortex paling peka terhadap nada-nada berfrekuensi tinggi,
sedangkan bagian posteriornya cenderung
peka terhadap frekuensi-frekuensi yang rendah.
|
|
|
c. Alat
yang Digunakan
|
:
|
Stopwatch
|
|
|
d. Jalannya
Percobaan
|
:
|
Sebuah
stopwatch di tempatkan di depan salah satu lubang telinga praktikan,
sementara lubang telinga yang satu lagi ditutup. Kemudian stopwatch ditekan,
lalu di jauhkan dari lubang telinga sampai praktikan tidak mendengar lagi dan
berkata stop. Ukur jarak stopwatch dari lubang telinga. Lakukan hal yang sama
pada telinga yang sebelahnya.
|
|
|
e. Hasil
Percobaan
|
:
|
Telinga kiri =
124cm
Telinga kanan
= 85cm
Telinga kiri
lebih baik dibanding telinga kanan.
Hasil
Sebenarnya:
1.
Sangat
dipengaruhi oleh kebisingan
2.
Rata-rataa
diatas 50cm
3.
Biasanya
telinga kanan lebih jauh dari telinga kiri. (pengaruhnya pada otak kanan dan
otak kiri)
|
|
|
f. Kesimpulan
|
:
|
Fungsi utama indera pendengaran manusia yaitu untuk
mendeteksi suara, menentukan lokasi sumber suara dan mengidentifikasikan pola
suara tersebut. Ketajaman indera pendengaran kanan dan kiri itu berbeda dan
sangat dipengaruhi oleh kebisingan dan pada otak kanan dan otak kiri. Selain
itu juga ketajaman pendengaran kanan dan kiri tidak selalu sama, biasanya
telinga kanan jauh lebih baik dibanding dengan telinga kiri.
|
|
|
g. Dafar
Pustaka
|
:
|
Ganong, W.
F. 2008. Fisiologi Kedokteran. Jakarta:
EGC.
Pinel, John P.J. 2009. Biopsikologi.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Puspitawati,
Ira. 1999. Psikologi Faal. Jakarta: Universitas
Gunadarma.
|
|
1.
|
Percobaan
|
:
|
Indra
Pendengaran dan Keseimbangan
|
|
|
Nama Percobaan
|
:
|
2. Keseimbangan
2.1 Cara kerja
kedudukan kepala dan mata normal
|
|
|
Nama Subjek Percobaan
|
:
|
Nadila Nita
Telyana Gulo
|
|
|
Tempat Percobaan
|
:
|
Laboratorium
Psikologi Faal
|
|
|
a. Tujuan
Percobaan
|
:
|
Untuk memahami
bahwa cairan endolymph dan perilymph yang terdapat pada telinga
bila bergejolak (goyang) akan menyebabkan keseimbangan seseorang teranggu;
memahami bahwa keseimbangan yang terganggu mudah dikembalikan seperti
sediakala; melihat adanya nistagmus
|
|
|
b. Dasar
Teori
|
:
|
Menurut Ganong (2008), nukleus vestibularis terutama
berperan mempertahankan posisi kepala dalam ruang. Jalur yang turun dari
nukleus-nukleus ini memperantalkan penyesuaian kepala terhadap leher dan
kepala terhadap badan.
Menurut Pearce (1999), pada saluran membranosa yang
mengandung ujung-ujung akhir saraf pendengaran. Cairan dalam labirin
membranosa disebut endolimph, sementara cairan diluar labirin
membranosa dan dalam labirin tulang di sebut perilimph. Ada dua
tingkap dalam ruang melingkar ini yaitu, pertama fenestra vestibuli yang
disebut fenestra ovalis merupakan lantaran bentuknya yang bulat panjang dan
ditutup oleh tulang stapes dan kedua fenstra kokhlea yang disebut
juga fenestra rotunda yaitu lantaran bentuknya bundar dan situtup oleh sebuah
membran. Kedua-duanya menghadap ke telinga dalam. Adanya tingkap-tingkap
dalam labirin tulang bertujuan agar getaran dapat dialihkan dari rongga
telinga tengah, guna dilangsungkan dalam perilymph (perilymph adalah
cairan yang praktis tidak dapat dipadatkan). Getaran dalam perilymph dialihkan
menuju endolimph, dan dengan demikian merangsang ujung-ujung akhir saraf
pendengaran.
Menurut Puspitawati (2014), vestibular system berfungsi membawa informasi
tentang arah dan intensitas gerakan kepala, membantu mempertahankan keseimbangan,
dan menjaga kepala tetap ke depan dalam penyesuaian gerakan mata dengan
gerakan kepala.
|
|
|
c. Alat
yang Digunakan
|
:
|
-
|
|
|
d. Jalannya
Percobaan
|
:
|
Praktikan
berjalan digaris lurus dengan sikap tubuh biasa dan berjalan di garis lurus
dengan muka di buang ke kanan/kiri
|
|
|
e. Hasil
Percobaan
|
:
|
Saat sikap
tubuh biasa dan saat muka di buang ke kanan/kiri dapat berjalan lurus
digaris.
Hasil Sebenarnya:
1.
Dalam
sikap tubuh biasa, praktikan dapat berjalan lurus atau tidak mengalami
kesulitan
2.
Dalam
sikap tubuh dengan muka dibuang ke kanan/kiri praktikan tidak dapat berjalan
lurus → biasanya jalan ke kiri/kanan
|
|
|
f. Kesimpulan
|
:
|
Posisi kepala dan rotasi akan memberikan rangsangan
terhadap kanalis semisirkularis. Mata dan posisi kepala mempengaruhi
keseimbangan seseorang. Aliran endolimph akan mempengaruhi
kesan terhadap arah rotasi berjalan yang terjadi. Kanalis semisirkularis
mendeteksi akselerasi atau deselerasi angular atau rotasional kepala.
|
|
|
g. Dafar
Pustaka
|
:
|
Ganong, W.
F. 2008. Fisiologi Kedokteran. Jakarta:
EGC.
Pearce, E. (1999). Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Puspitawati, I., Hapsari, I. I.,
&
Suryaratri, R. D. (2014). Psikologi
Faal. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya Offset.
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
Percobaan
|
:
|
Indra
Pendengaran dan Keseimbangan
|
|
|
Nama Percobaan
|
:
|
2.
Keseimbangan
2.2 Cara kerja
kanalis semisirkunalis horizontalis
|
|
|
Nama Subjek Percobaan
|
:
|
Nadila Nita
Telyana Gulo
|
|
|
Tempat Percobaan
|
:
|
Laboratorium
Psikologi Faal
|
|
|
a. Tujuan
Percobaan
|
:
|
Untuk memahami
bahwa cairan endolymph dan perilymph yang terdapat pada telinga
bila bergejolak (goyang) akan menyebabkan keseimbangan seseorang teranggu;
memahami bahwa keseimbangan yang terganggu mudah dikembalikan seperti
sediakala; melihat adanya nistagmus
|
|
|
b. Dasar
Teori
|
:
|
Menurut Ganong (2008), kanalis semikuralis dapat
dirangsang dengan meneteskan air yang lebih panas atau lebih dingin daripada
suhu tubuh ke dalam meatus auditorius eksternus. Perbedaan suhu
akan menimbulkan arus konveksi di endolimph, yang kemudian
menggerakkan kupula. Teknik rangsangan kalori ini, yang kadang-kadang
digunakan untuk tujuan diagnostik, menyebabkan nistagmus, vertigo, dan mual.
Untuk menghindari gejala ini sewaktu melakukan irigasi salurna telinga dalam
pengobatan infeksi telinga, harus dipastikan bahwa suhu cairan yang digunakan
sama dengan suhu tubuh.
Menurut Kimbal (1983), gerak tubuh manusia dideteksi pada
ketiga saluran lingkaran di bagian atas masing-masing telinga dalam. Ketiga
saluran tersebut merupakan tiga tabung berisi cairan, masing-masing mengarah
ke salah satu dari ketiga bidang ruang. Pada satu ujung setiap saluran ada
ruangan kecil yang berisi sel-sel rambut sensori. Setiap kali kepala
digerakkan, saluran setengah lingkaran itu pun bergerak. Akan tetapi, cairan
didalamnya itu gerakannya lambat, dan akibatnya ada gerak relatif di antara
dinding saluran dan cairan. Gerak ini menstimulasi sel-sel rambut untuk
mengirimkan kembali impuls ke otak. Pemeliharaan keseimbangan yang sesuai
selama kegiatan atletik secara praktis tidak mungkin tanpa mekanisme ini.
Bila sel-sel rambut distimulasi dalam cara-cara yang tidak dikenal, seperti
misalnya dalam kapal laut atau kapal terbang selama cuaca buruk, dapat
terjadi mabuk.
Menurut Pearce (1999), Nervus vestibularis yang
tersebar hingga kanalis semisirkularis, mengantarkan impuls-impuls menuju
otak. Impuls-impuls itu dibangkitkan dalam kanal-kanal tadi, karena adanya
perubahan kedudukan cairan dalam kanal atau saluran-saluran itu. Hal ini
mempunyai hubungan erat dengan kesadaran kedudukan kepala terhadap badan.
Apabila seseorang sekoyong-koyong didorong ke arah satu lain (berlawanan
dengan arah badan yang didorong), guna mempertahankan keseimbangan, berat
badan diatur, posisi berdiri dipertahankan, dan jatuhnya badan dapat dihindarkan.
Perbahan kedudukan cairan dalam saluran semisirkuler inilah yang merangsang
impuls, yang segera di jawab badan berupa gerak refleks, guna memindahkan berat
badan serta mempertahankan keseimbangan.
|
|
|
c. Alat
yang Digunakan
|
:
|
-
|
|
|
d. Jalannya
Percobaan
|
:
|
Praktikan
berposisi badan lurus tegak dengan mata tertutup dan kepala menunduk lalu
tutor memutar praktikan sebanyak tiga kali dan selanjutnya praktikan berjalan
dengan keadaan normal.
|
|
|
e. Hasil
Percobaan
|
:
|
Ketika di
putar selama tiga kali praktikan merasa pusing sejenak namun setelah itu
praktikan bisa berjalan dengan lurus
Hasil
Sebenarnya:
Percobaan 1
=> Biasanya mengalami kesulitan untuk berjalan lurus → Normal, karena
cairan endolimph perilimph bergejolak.
Percobaan 2
=> Biasanya tidak terlalu mengalami kesulitan untuk berjalan lurus seperti
yang percobaan 1 → karena cairan endolimph dan perilimph normal kembali.
|
|
|
f. Kesimpulan
|
:
|
Percepatan rotasi pada salah satu bidang kanalis
semisirkularis tertentu akan merangsang kristanya. Endolimph, karena
kelembapannya, akan bergeser ke arah yang berlawanan terhadap arah rotasi.
Apabila rotasi dihentikan, perlambatan akan menyebabkan pergeseran endolimph
searah dengan rotasi. Pola rangsangan yang mencapai otak beragam sesuai
dengan arah serta bidang rotasi
|
|
|
g. Dafar
Pustaka
|
:
|
Ganong, W.
F. 2008. Fisiologi Kedokteran. Jakarta:
EGC.
Kimbal, J. W.
(1983). Biologi. Jakarta: Erlangga.
Pearce, E.
(1999). Anatomi dan Fisiologi
untuk Paramedis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
|
|
3.
|
Percobaan
|
:
|
Indra
Pendengaran dan Keseimbangan
|
|
|
Nama Percobaan
|
:
|
2. Keseimbangan
2.3 Cara Kerja
Nistagmus
|
|
|
Nama Subjek Percobaan
|
:
|
Nadila Nita
Telyana Gulo
|
|
|
Tempat Percobaan
|
:
|
Laboratorium
Psikologi Faal
|
|
|
a. Tujuan
Percobaan
|
:
|
Untuk memahami
bahwa cairan endolymph dan perilymph yang terdapat pada telinga
bila bergejolak (goyang) akan menyebabkan keseimbangan seseorang teranggu;
memahami bahwa keseimbangan yang terganggu mudah dikembalikan seperti
sediakala; melihat adanya nistagmus
|
|
|
b. Dasar
Teori
|
:
|
Menurut Ganong (2008), gerakan menyentak khas pada mata
yang tempak pada saat awal dan akhir periode rotasi disebut nistagmus.
Gerakan ini sebenarnya merupakan refleks yang mempertahankan fiksasi
penglihatan di titik-titik yang diam sementara tubuh berputar, walaupun
gerakan ini tidak dicetuskan oleh impuls penglihatan dan terjadi pada orang
buta. Sewaktu rotasi di mulai, mata bergerak melambat dalam arah berlawanan
dengan arah rotasi, untuk mempertahankan fiksasi penglihatan. Bila batas
gerakan ini tercapai, mata dengan cepat akan berputar kembali ke titik
fiksasi baru lalu kembali bergerak lambat ke arah lain. Komponen lambat
dicetuskan oleh impuls dari lebirin, sedangkan komponen cepat dicetuskan oleh
pusat di batang otak. Nistagmus sering bersifat horizontal (yaitu mata
bergerak ke dalam bidang horizontal), tetapi nistagmus juga dapat bersifat
vertikal, bila kepala direbahakan ke sisi selama rotasi, atau berputar, bila
kepala menengok ke bawah. Berdasarkan perjanjian, arah gerakan mata dalam
nistagmus dinyatakan oleh arah komponen cepat. Arah komponen cepat selama
rotasi sama dengan arah rotasi, tetapi nistagmus pascarotasi yang terjadi
akibat pergeseran kupula sewaktu rotasi dihentikan memiliki arah berlawanan.
Secara klinis, nistagmus dijumpai saat istirahat pada pasien dengan lesi di
batang otak.
Menurut Puspitawati (2014), telinga kita tidak hanya
berfungsi sebagai indera pendengaran, tetapi juga berperan dalam
mempertahankan keseimbangan (sistem vestibular). Saat kita dalam
mempertahankan kita berputar-putar, cairan kokhlea juga berputar-putar dan
mengirimkan sinyal ke otak. Lalu jika berhenti tiba-tiba, maka akan merasa
pusing dan terjatuh. Hal ini karena cairan kokhlea masih belum berhenti
berputar walaupun tubuh telah diam. Sehingga sensor di dalam telinga masih
mengirimkan ke otak seakan-akan masih berputar. Hal inilah yang membuat kita
pusing dan merasa seperti akan terjatuh.
|
|
|
c. Alat
yang Digunakan
|
:
|
-
|
|
|
d. Jalannya
Percobaan
|
:
|
Praktikan
membungkuk dengan di putar sebanyak tiga kali oleh tutor, setalah itu praktikan
di minta berjalan seperti biasa.
|
|
|
e. Hasil
Percobaan
|
:
|
Praktikan
merasakan pusing setelah di putar, lalu praktikan berjalan dengan keadaan
tegap dan praktikan merasakan pusing yang sangat parah, dan kita berjalan
praktikan merasa apa yang di lihatnya
berputar.
Hasil
Sebenarnya:
1.
Biasanya
pandangan menjadi kabur atau berkunang-kunang
2.
Apa
yang dilihat menjadi berputar-putar
|
|
|
f. Kesimpulan
|
:
|
Nistagmus adalah suatu gejala yang timbul akibat telinga
terganggu sehingga pandangan menjadi berkunang-kunang dan kepala menjadi
pusing. Alat keseimbangan di dalam utrikulus dari sekelompok sel saraf yang
ujungnya berupa rambut bebas melekat pada otolith. Posisi kepala
mengakibatkan desakan otolith pada rambut yang menimbulkan impuls yang akan
dikirim ke otak. Pada cairan kokhlea yaitu endolimph dan perilimph tidak
seimbang.
|
|
|
g. Dafar
Pustaka
|
:
|
Ganong, W.
F. 2008. Fisiologi Kedokteran. Jakarta:
EGC.
Puspitawati, I., Hapsari, I. I., & Suryaratri, R. D. (2014). Psikologi Faal. Bandung:
PT.
Remaja
Rosdakarya Offset.
|
|
|
h.
Note
|
:
|
1.
Telinga
dibagi menjadi 3 bagian, yaitu: bagian luar, bagian tengah, bagian dalam
2.
Bagian
luar: Daun telinga, cuping, liang, membran thympani
3.
Bagian
tengah: M.I.S (Maleus, Incus, Stapes)/ MALAS (Martil, Landasan, Sanggurdi)
4.
Bagian
dalam: Rumah siput (cochlea) → ada
2 macam cairang, yaitu endolimph dan perilimph seimbang ketika berjalan.
5.
Pada
telinga bagian dalam terdiri dari 2 ruangan yang berhubungan satu dengan yang
lainnya, ruangan tersebut tidak teratur dan disebut Labyrinth
6.
Labyirinth ada 2, yaitu:
a.
Labyrinthus Ossesus (dinding tulang). Terdiri dari: serambi (vestibulum), saluran gelung (canalis semi sircularis), dan rumah
siput (cochlea).
b.
Labyrinthus Membranicus (membrane) terdiri dari: sacula, otricula, 3 buah saluran gelung, dan rumah siput yang
merupakan bagian yang berhubungan dengan sacula
dona tricula.
c.
Saraf
karnial → audiforius
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar