LAPORAN PRAKTIKUM PSIKOLOGI FAAL
|
Nama Mahasiswa
NPM
Kelas
|
:
:
:
|
Nadila
Nita T.G
14517380
1PA20
|
Tanggal Pemeriksaan
Nama Asisten
Paraf Asisten
|
:
:
:
|
19
Mei 2018
Dwi
Maidaleni
|
|
1.
|
Percobaan
|
:
|
Indera
Peraba
|
|
|
Nama Percobaan
|
:
|
Perasa
pada kulit
|
|
|
Nama Subjek Percobaan
|
:
|
Nadila
Nita Telyana Gulo
|
|
|
Tempat Percobaan
|
:
|
Laboratorium
Psikologi Faal
|
|
|
a.
Tujuan Percobaan
|
:
|
Untuk
mengetahui adanya reseptor tekanan, sakit, sentuhan, dingin dan panas pada
kulit, serta mengetahui letak pada amasing-masing reseptor.
|
|
|
b.
Dasar Teori
|
:
|
Menurut Basuki
(2008) kulit yang paling luar merupakan film tipis dari sel mati yang tidak
memiliki sel penerima. Persis di bawah lapisan mati terdapat penerima pertama
yang kelihatan seperti kumpulan benang. Di bagian tengah yang merupakan
lapisan tebal dari kulit terdapat berbagai penerima (receptor)
dengan fungsi dan bentuk yang berbeda.
Menurut Pinel
(2012) sensasi-sensasi dari badan disebut somatosensations (somatosensori).
Sistem somatosensori pada kenyataannya adalah tiga sistem yang terpisah
tetapi saling berinterkasi yakni sebuah sistem ekstereseptif (yang
mengindera stimuli eksternal yang diterapkan pada kulit), sebuah sistem proprioseptif (yang
memonitor informasi tentang posisi tubuh yang datang dari reseptor-reseptor
di otot, sendi, dan organg-organ keseimbangan), dan sebuah sistem interoseptif (yang
memberikan informasi umum tentang kondisi-kondisi dalam tubuh). Diskusi ini
secara nyaris secara eksklusif berbicara tentang system eksteroseptif yang terdiri atas
tiga devisi yang berbeda yaitu sebuah divisi untuk mempersepsi stimuli
mekanik (perabaan), sebuah divisi untuk stimuli thermal (temperatur),
dan sebuah devisi untuk stimuli nosiseptif (rasa sakit).
Menurut Puspitawati
dkk (2014) reseptor-reseptor di kulit (reseptor kutanase)
terdiri dari banyak macamnya. Ada empat macam reseptor utama, sebagai
berikut:
A.
Freee nerve endings (ujung-ujung
saraf bebas), merupakan reseptor kutaneus paling sederhana, ujung-ujung
sarafnya tanpa struktur yang khusus dan sangat sensitif terhadap perubahan
suhu dan rasa sakit.
B. Pacinian
corpuscles (korpuskel pacinian), bentuknya seperti
bawang, merupakan reseptor terbesar dan terdalam, mudah beradaptasi dengan
cepat, mereka dapat merespons perubahan mendadak pada kulit.
C.
Merkel’s disks, merespons
paling kuat indensasi gradual kulit dan peregangan gradual kulit. Beradaptasi
dengan lambat.
D. Ruffini
endings, respons dan adaptasinya sama dengan reseptor Merkel’s
disk.
Dapat di simpulkan dari ketiga tokoh tersebut kulit yang
paling luar merupakan film tipis dari sel mati yang tidak memiliki sel
penerima. System eksteroseptif terdiri atas tiga devisi yang berbeda
yaitu sebuah divisi untuk mempersepsi stimuli mekanik (perabaan),
sebuah divisi untuk stimuli thermal (temperatur), dan
sebuah devisi untuk stimuli nosiseptif (rasa sakit), dam reseptor-reseptor
di kulit (reseptor kutanase) terdiri dari banyak macamnya yaitu Freee
nerve endings (ujung-ujung saraf bebas), Pacinian
corpuscles (korpuskel pacinian), Merkel’s disks
yang merespons
paling kuat dan
Ruffini endings.
|
|
|
c.
Alat yang digunakan
|
:
|
3 baskom plastik; serta beberapa macam cairan atau larutan
(air, alkohol 70% dan aseton).
|
|
|
d.
Jalannya Percobaan
|
:
|
1.1
praktikan merendamkan tangan kiri pada baskom air dingin dan tangan
kanan pada baskom air hangat. Kemudian kedua tangan praktikan di rendamkan
kembali pada baskom air biasa.
1.2
Praktikan ditetesi air biasa dari punggung tangan, lalu ditiup.
Kemudian tangan praktikan ditetesi alkohol, lalu ditiup dan yang terakhir tangan ditetesi dengan
aseton lalu ditiup. Sehingga praktikan bisa membedakan mana yang lebih berasa
dinginnya.
|
|
|
e.
Hasil Percobaan
|
:
|
Menurut tokoh yang di atas dikatakan bahwa
kita memiliki sebuah reseptor divisi untuk merasakan stimuli
thermal atau temperature. Ketika tangan kita di masukan ke baskom yang berisi
air panas, dingin bahkan hangat kulit kita dapat mendeteksi dengan cepat.
1.1 Tangan kiri yang direndam pada air dingin
kemudian direndam kembali pada air biasa mengalami penurunan suhu menjadi
hangat. Tangan kanan yang direndam pada air hangat kemudian direndam kembali
pada air dingin mengalami kenaikan suhu sehingga menjadi dingin.
Menurut tokoh yang di atas dikatakan bahwa kita memiliki berbagai
macam reseptor namun ada reseptor yang paling utama yaitu Freee
nerve endings atau ujung-ujung saraf bebas, merupakan
reseptor kutaneus paling sederhana, ujung-ujung sarafnya tanpa struktur yang
khusus dan sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan rasa sakit dari sini kita
bisa merasakan perubahan suhu
yang signifikan dengan melakukan percobaan perasa pada kulit
1.2 Tangan yang di tetesi air biasa tidak
terlalu dingin. Tangan yang di tetesi dengan alkohol lebih dingin daripada
yang di tetesi air biasa. Tangan yang di tetesi oleh aseton lebih dingin
daripada yang di tetesi alkohol.
|
|
|
f.
Hasil Sebenarnya
|
:
|
1.1
1.
Biasanya setelah dimasukkan ke baskom c tangan kanan terasa dingin dan
tangan kiri hangat.
2. Kulit sebagai Thermoreseptor
3. Tangan kanan terasa dingin karena adanya
pengurangan kalor
4.
Tangan kiri terasa hangat karena adanya penambahan
kalor
1.2
1.
Air lebih dingin dari hanya ditiup.
2.
Alkohol lebih dingin dari air. Aseton lebih dingin dari alkohol.
3.
Aseton lebih dngin daripada alkohol
4.
Ada reseptor dingin pada kulit (reseptor Krasue)
5.
Alkohol memiliki titik didih yang rendah sehingga ketika mengenai kulit
alkohol akan langsung menguap. Selama proses penguapan alkohol memerlukan
kalor yang diambil dari tubuh, maka kulit akan terasa dingin.
|
|
|
g.
Kesimpulan
|
:
|
Kulit merupakan reseptor yang peka terhadap
rangsangan khusus seperti merespons sentuhan, tekanan, rasa sakit, panas, dan
dingin. Kulit terdiri dari epidermis, dermis dan subkutis. Epidermis
merupakan lapisan yang sangat rapat dan sifatnya tipis dan avaskuler. Dermis
merupakan lapisan di bawah epidermis
yang terdiri dari sel longgar yang letaknya agak berjauhan dan dibagi
menjadi dua lapisan yaitu lapisan papiler dan lapisan retikuler. Subkutis
merupakan lapisan di bawah dermis atau hipodermis yang terdiri dari lapisan
lemak.
|
|
|
h.
Daftar Pustaka
|
:
|
Basuki, M. H. (2008). Psikologi Umum. Jakarta:
Universitas Gunadarma.
Pinel, J. P. (2012). Biopsikologi. Yogyakarta: Pustaka
Belajar.
Puspitawati , I., Hapsari, I. I., & Suryaratri,
R. D. (2014). Psikologi Faal. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Offset.
|
|
2.
|
Percobaan
|
:
|
Indra
Peraba
|
|
|
Nama Percobaan
|
:
|
Lokalisasi
Taktil
|
|
|
Nama Subjek Percobaan
|
:
|
Nadila
Nita Telyana Gulo
|
|
|
Tempat Percobaan
|
:
|
Laboratorium
Psikologi Faal
|
|
|
a.
Tujuan Percobaan
|
:
|
Memahami
serta mengetahui kepekaan syaraf peraba dengan melokalisir tempat yang
ditusukkan keberbagai tempat; serta mengetahui kepekaan TPL (Two Point Localization).
|
|
|
b.
Dasar Teori
|
:
|
Menurut Kimbal
(1983) pada manusia sentuhan halus dideteksi oleh resptor yang terdapat dekat
permukaan kulit. Acap kali terdapat folikel rambut. Bahkan jika kulit
disentuh secara tidak langsung, gerakan rambut di deteksi oleh reseptor.
Reseptor sentuhan tidak disebarkan secara merata di seluruh permukaan tubuh.
Kulit ujung jari dapat mengandung sebanyak 100 per sentimeter persegi dan di
ujung lidah demikian pula sebanyaknya. Konsentrasi reseptor sentuhan di
lokasi lain cenderung jauh lebih kecil jumlahnya. Lokasi yang tepat bagi
reseptor-reseptor sentuhan dapat ditentukan dengan menyentuh kulit secara
lembut dengan sikat kaku dan menandai titik-titik tempat subjek mendeteksi
sentuhan tertentu. Variasi yang menarik pada teknik ini dapat dilakukan
dengan sepasang pemisah seperti yang dipakai pada gambar teknik mesin.
Tekanan, salah satu reseptor yang paling mudah dikaji ialah korpuskel
pacini karena dapat diambil dan ukurannya relatif besar. Reseptor
ini terletak pada kulit dan juga di berbagai organ dalam. Sebagaimana
reseptor lainnya, masing-masing dihubungkan dengan neuron sensori. Dengan
mengisolasi satu korpuskel pacini bersama neuronnya yang
menempel merupakan suatu cara untuk menelaah sifat-sifatnya.
Menurut Puspitawati dkk
(2014) seseorang dapat mengidentifikasi objek melalui sentuhan (stereognosis).
Dengan memiliki reseptor yang sebagian beradaptasi dengan cepat dan sebagian
beradaptasi dengan lambat akan memmberikan informasi tentang
kualitas-kualitas dinamis maupun statis dari berbagai stimuli taktual.
Menurut
Sherwood (2001) hampir semua informasi mengenai sentuhan, tekanan, dan
getaran masuk ke korda spinalis melalui akar dorsal saraf spinal yang sesuai.
Setelah bersinap di spina, informasi dengan lokalisasi dibawa oleh
serat-serat A yang melepaskan potensial aks dengan cepat (beta dan delta)
dikirim ke otak melalui sistem lemniskus
kolumna dorsalist.
Dapat di simpulkan dari ketiga tokoh tersebut bahwa pada manusia
sentuhan halus dideteksi oleh resptor yang terdapat dekat permukaan kulit
sering kali terdapat folikel rambut. Konsentrasi reseptor sentuhan di lokasi lain
cenderung jauh lebih kecil jumlahnya seseorang dapat mengidentifikasi objek melalui
sentuhan (stereognosis)
teseptor yang beradaptasi denan cepat dan lambat akan memberikan informasi
yang dinamis maupun statis. Hampir semua informasi mengenai sentuhan,
tekanan, dan getaran masuk ke korda spinalis melalui akar dorsal saraf spinal
yang sesuai.
|
|
|
c.
Alat yang digunakan
|
:
|
Spidol 2 warna dan penggaris dan penutup mata.
|
|
|
d.
Jalannya Percobaan
|
:
|
Praktikan ditutup matanya dengan penutup
mata, kemudian tutor menulis titik pada tangan praktikan, lalu dengan cepat
praktikan menuliskan titik sesuai yang tadi tutor berikan. Kemudian tutor
menghitung jarak antara titik yang diberikan tutor dengan titik yang di tulis
oleh praktikan.
|
|
|
e.
Hasil Percobaan
|
:
|
Menurut tokoh yang di atas dikatakan bahwa seseorang mampu
mengidentifikasi objek melalui sentuhan (stereognosis). Reseptor
sebagian beradaptasi dengan cepat dan sebagian beradaptasi dengan lambat akan
memberikan informasi secara dinamis maupun statis dari berbagai stimuli taktual. Konsentrasi reseptor di lokasi yang tepat bagi
reseptor-reseptor sentuhan dapat ditentukan dengan menyentuh kulit secara
lembut dengan sikat kaku dan menandai titik-titik tempat subjek mendeteksi
sentuhan tertentu.
Dari percobaan ini kita bisa mengetahui kepekaan syaraf serta mengetahui
kepekaan.
Hasil lokalisasi taktil
1. 1,3 cm
2. 1,5 cm
3. 1,4 cm
|
|
|
f.
Hasil Sebenarnya
|
:
|
1. Bila jarak kurang dari 5cm
2. Bila jarak lebih dari 5cm
3. TPL (To Poin Localization)
4. Jarak yang tutor tusuk dengan yang
praktikan dapat
|
|
|
g.
Kesimpulan
|
:
|
Kulit merupakan indera peraba yang
mempunyai reseptor khusus untuk sentuhan, tekanan, panas, dingin dan rasa
sakit. Reseptor pada kulit bagian lapisan epidermis mendeteksi sentuhan dan
lapisan dermis mendeteksi panas, dingin, tekanan dan rasa sakit. TPL (Two
Point Localization) lebih peka pada bagian yang menonjol seperti hidung,
mata, bibir, ujung jari dan telinga. Lokasi yang tepat bagi
reseptor-reseptor sentuhan, dapat ditentukan dengan menyentuh kulit
secara lembut dengan sikat kaku dan menandai titik-titik tempat subjek
mendeteksi sentuhan tertentu.
|
|
|
h.
Daftar Pustaka
|
:
|
Kimbal, J. W. (1983). Biologi. Jakarta:
Erlangga.
Puspitawati , I., Hapsari, I. I., & Suryaratri, R. D. (2014). Psikologi
Faal. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Sherwood, L.
(2001). Fisiologi Manusia. Ahli
Bahasa oleh Batricia I. Jakarta: EGC.
|
|
3.
|
Percobaan
|
:
|
Indera
Peraba
|
|
|
Nama Percobaan
|
:
|
Daya
membedakan sifat benda
|
|
|
Nama Subjek Percobaan
|
:
|
Nadila
Nita Telyana Gulo
|
|
|
Tempat Percobaan
|
:
|
Laboratorium
Psikologi Faal
|
|
|
a.
Tujuan Percobaan
|
:
|
Untuk
membuktikan kepekaan syaraf peraba terhadap kehalusan benda sampai kekasaran
benda; serta bentuk-bentuk benda (Streognostik).
|
|
|
b.
Dasar Teori
|
:
|
Menurut Kimbal
(1983) Sentuhan dapat ditentukan dengan menyentuh kulit secara lembut dengan
sikat kaku dan menandai titik-titik tempat subjek mendeteksi sentuhan
tertentu. Variasi yang menarik pada teknik ini dapat dilakukan dengan
sepasang pemisah seperti yang dipakai pada gambar
teknik mesin. Tekanan, salah satu reseptor yang paling mudah dikaji
ialah korpuskel pacini karena dapat diambil dan ukurannya
relatif besar. Reseptor ini terletak pada kulit dan juga di berbagai organ
dalam. Sebagaimana reseptor lainnya, masing-masing dihubungkan dengan neuron
sensori. Dengan mengisolasi satu korpuskel pacini bersama
neuronnya yang menempel merupakan suatu cara untuk menelaah sifat-sifatnya.
Menurut Pinel
(2012) ada banyak macam
reseptor di kulit mengilustrasikan empat di antaranya. Cutaneous
receptor (reseptor kutaneus) paling sederhana adalah free
nerve endings (ujung-ujung saraf bebas, ujung-ujung neuron tanpa
struktur terspesialisasi), yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan
rasa sakit. Reseptor terbesar dan terdalam adalah pacinian
corpuscles (korpuskel pacinian) mirip bawang, karena mereka
beradaptasi dengan cepat, mereka serta merta merespons displacement mendadak
pada kulit. Sebaliknya, merkel’s disks dan ruffini endings keduanya
beradaptasi dengan lamban dan masing-masing merespons kuat pada indensasi
gradual kulit dan peregangan gradual kulit. Signifikasi fungsional adaptasi
reseptif cepat dan lambat, bila sebuah tekanan konstan diterapkan pada kulit.
Tekanan itu membangkitkan semburan penembakan di seluruh reseptor, yang
berkorespondensi dengan sensai sentuh, tetapi setelah beberapa ratus
milisekon, hanya reseptor-reseptor yang lambat beradaptasi yang tetap aktif,
dan kualitas sensasinya pun berubah. Faktanya, sering sama sekali tidak
menyadari tekanan kulit konstan.
Menurut Puspitawati
dkk (2014) berdasarkan reseptor-reseptor di kulit, maka seseorang dapat
mengidentifikasi objek melalui sentuhan (stereognosis). Dengan
memiliki reseptor yang sebagian beradaptasi dengan cepat dan sebagian
beradaptasi dengan lambat akan memberikan informasi tentang kualitas-kualitas
dinamis maupun statis dari berbagai stimuli taktual.
Dapat di simpulkan dari ketiga tokoh tersebut bahwa
sentuhan dapat ditentukan dengan menyentuh kulit secara lembut
dengan sikat kaku dan menandai titik-titik tempat subjek mendeteksi sentuhan
tertentu dan
dapat diketahui bahwa reseptor terbesar dan terdalam adalah pacinian
corpuscles (korpuskel pacinian), melalui reseptor-reseptor di kulit maka
seseorang dapat mengidentifikasi objek melalui yang di sentuhnya.
|
|
|
c.
Alat yang digunakan
|
:
|
Slayer penutup mata, kain (berbagai macam dari yang
halus sampai yang kasar), serta berbagai macam bentuk balok (kubus, silinder,
lingkaran, segitiga dan kerucut).
|
|
|
d.
Jalannya Percobaan
|
:
|
3.1
Praktikan ditutup matanya kemudian tutor memberikan kain lalu
praktikan mengurutkan kain yang disentuh dari yang halus sampai yang kasar.
3.2 Praktikan ditutup matanya kemudian menebak
benda apa yang diberikan oleh tutor.
|
|
|
e.
Hasil Percobaan
|
:
|
Menurut tokoh yang di atas dikatakan bahwa berdasarkan
reseptor-reseptor di kulit, maka seseorang dapat mengidentifikasi objek
melalui sentuhan (stereognosis). Kita memiliki reseptor yang
sebagian beradaptasi dengan cepat dan sebagian beradaptasi dengan lambat akan
memberikan informasi tentang kualitas-kualitas dinamis maupun statis dari
berbagai stimuli taktual. Dari sini kita bisa mengetahui kepekaan syaraf peraba terhadap
kehalusan benda sampai kekasaran benda dan bentuk-bentuk benda.
3.1 Hasil : 5,1,4,2,3
3.2 Hasil : K, R, lingkaran, W, Y
|
|
|
f.
Hasil Sebenarnya
|
:
|
3.1 Adalah 4,1,5,2,3
3.2 K, J, lingkaran, W, H
|
|
|
g.
kesimpulan
|
:
|
Setiap orang
memiliki kepekaan syaraf peraba terhadap kehalusan benda sampai kekasaran
benda dan bentuk-bentuk benda. Indera peraba atau kulit yang peka terhadap
sensor sentuhan, tekanan, suhu dan rasa sakit. Sensor tersebut banyak
dilapisan kulit dermis. Sensor-sensor tersebut akan dikirim ke otak untuk
diterjemahkan sebagai respons panas, dingin, rasa sakit, dan lain-lain.
Terdapat dua jalur utama informasi ke otak, yaitu jalur sistem kolom dorsal
lemnikus meidal dan jalur sistem anterolateral.
|
|
|
h.
daftar Pustaka
|
:
|
Basuki, M. H. (2008). Psikologi Umum. Jakarta:
Universitas Gunadarma.
Pinel, J. P. (2012). Biopsikologi. Yogyakarta: Pustaka
Belajar.
Puspitawati, I., Hapsari, I. I., & Suryaratri,
R. D. (2014). Psikologi Faal. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
|
|
4.
|
Percobaan
|
:
|
Indera
Peraba
|
|
|
Nama Percobaan
|
:
|
Gerak
Refleks
|
|
|
Nama Subjek Percobaan
|
:
|
Nadila
Nita Telyana Gulo
|
|
|
Tempat Percobaan
|
:
|
Laboratorium
Psikologi Faal
|
|
|
a.
Tujuan Percobaan
|
:
|
Untuk
mengetahui adanya gerakan-gerakan reflek pada otot.
|
|
|
b.
Dasar Teori
|
:
|
Menurut Slone (2004) refleks
adalah respons otomatis terhadap stimulus tertentu yang menjalar pada rute
yang disebut lengkung refleks. Sebagian besar proses tubuh involunter
(misalnya, denyut jantung, pernapasan, aktivitas pencernaan, dan pengaturan
suhu) dan respons somatis (misalnya, sentakan akibat suatu stimulus nyeri
atau sentakan pada lutut) merupakan kerja refleks.
Menurut Sobur (2003) saat
tangan kita tersengat api, otomatis kita akan menarik tangan dari sumber sengatan
tersebut dengan sangat cepat. Inilah yang dinamakan gerak refleks, yaitu
suatu gerakan yang diperlihatkan seseorang untuk mempertahankan atau
melindungi tubuh dari kemungkinan – kemungkinan cacat, cidera, luka dan
lain – lain.
Menurut Ganong (2001) aktivitas
di lengkung reflex dimulai di reseptor sensorik, berupa potensial reseptor
yang besarnya sebanding dengan kuat rangsang. Potensial reseptor
membangkitkan potensial aksi yang bersifat gagal atau tuntas disaraf
aferen. Jumlah potensial aksi sebanding dengan besarnya potensial generator.
Di sistem saraf pusat terjadi respons bertahap berupa potensial pascasinaps
eksitatorik dan potensial pasca sianaps inhibitorik yang kemudian bangkit di
saraf tertaut-taut sinaps. Respon yang kemudian bangkit di saraf eferen
adalah respon yang bersifat gagal atau tuntas. Bila potensial aksi ini
mencapai efektor, akan terbangkit lagi respons bertahap. Di efektor yang
berupa otot polos, responnya akan bergabung untuk kemudian mencetuskan
potensial aksi di otot polos. Tetapi bila efektornya berupa otot rangka,
respons bertahap tersebut selalu cukup besar untuk mencetuskan potensial aksi
yang mampu menimbulkan kontraksi otot. Perlu ditekankan bahwa hubungan antara
neuron aferen dan eferen biasanya terdapat di susunan saraf pusat, dan
aktivitas di lengkung reflex merupakan aktivitas yang termodifikasi oleh
berbagai rangsangan yang terkumpul (konvergen) di neuron eferen.
Menurut Wilarso dan Zaipudin
(2009) gerak refleks ialah rangsang yang diterima oleh reseptor atau alat indera
(dari contoh tadi berupa sengatan api) dibawa oleh sel saraf sensorik ke
sumsum tulang belakang untuk diproses dan respon tadi diteruskan oleh
sel saraf motori ke otot untuk melakukan reaksi ( berupa gerakan menarik
tangan dengan cepat). Bila digambarkan secara sederhana yaitu rangsangan →
sel saraf sensorik → sumsum tulang belakang → sel saraf motorik → otot.
Menurut
keempat tokoh dapat disimpulkan bahwa refleks adalah respons
otomatis terhadap stimulus tertentu yang menjalar pada rute yang disebut
lengkung reflex contohnya saat tangan kita tersengat api, otomatis kita akan
menarik tangan dari sumber sengatan tersebut dengan sangat cepat, inilah yang disebut dengan gerak refleks. Aktivitas di lengkung reflex
dimulai di reseptor sensorik.
Dalam contoh terkena sengatan api tadi, proses gerakan reflek terjadi dibawa oleh sel saraf
sensorik ke sumsum tulang belakang untuk diproses dan respon tadi diteruskan oleh
sel saraf motori ke otot untuk melakukan reaksi ( berupa gerakan menarik
tangan dengan cepat).
|
|
|
c.
Alat yang digunakan
|
:
|
Sebuah martil refleks dengan bagian depan terbuat dari
karet.
|
|
|
d.
Jalannya Percobaan
|
:
|
Praktikan duduk diatas meja, kemudian tutor memukul
lutut praktikan dengan martil refleks.
|
|
|
e.
Hasil Percobaan
|
:
|
Menurut tokoh yang di atas dikatakan bahwa gerak refleks ialah rangsang
yang diterima oleh reseptor atau alat indera (dari percobaan memukul martil refleks ke dengkul) dibawa oleh sel saraf
sensorik ke sumsum tulang belakang untuk diproses dan respon tadi diteruskan
oleh sel saraf motori ke otot untuk melakukan reaksi ( berupa gerakan
menarik tangan dengan cepat). Bila digambarkan secara sederhana yaitu
rangsangan → sel saraf sensorik → sumsum tulang belakang → sel saraf motorik
→ otot. Dari dasar teori
dan hasil percobaan kita bisa mengetahui adanya gerakan refleks pada otot
kita.
Hasil gerak refleks
Kaki praktikan bergerak saat martil reflek
di pukul secara perlahan kebagian lutut hal ini menunjukan adanya gerakan
refleks pada otot.
|
|
|
f.
Hasil Sebenarnya
|
:
|
1.
Lutut yang dipukul dengan martil refleks secara spontan akan bergerak
sendiri
2. Namun, tidak harus bergerak
|
|
|
g.
Kesimpulan
|
:
|
Gerak refleks
merupakan gerakan yang dilakukan tanpa sadar dan merupakan respon segera
setelah adanya rangsang. Mekanisme gerak refleks yang tidak sadar yaitu
reseptor → syaraf sensori → sumsum tulang belakang → syaraf motorik →
efektor. Gerak refleks berjalan sangat cepat dan tanggapan terjadi secara
otomatis terhadap rangsangan, tanpa memerlukan kontrol dari otak. Contoh
gerak refleks yaitu berkedip, bersin, dan batuk.
|
|
|
h.
Daftar Pustaka
|
:
|
Sloane, E. (Buku Teks Fisiologi Kedokteran). 2004.Jakarta:
EGC.
Sobur, A. (2003). Psikologi Umum dalam Lintasan Sejarah. Bandung:
Pustaka Setia.
Ganong, W. F. (2001). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
Wilarso, J., & Zaipudin. (2009). Biologi. Klaten:
Sinar Abad.
|